Search

Category

Article

Separuh Agamaku Bersamamu – Sebuah Rangkuman


Resume Majelis Malam Ahad 12-April-2014

bersama Ust Bendri Jaisyurarahman

IMG-20140412-00362 - Copy

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beibadah kepadaKu.”
(QS. adz-Dzariyat: 56)

Nikah maupun tidak menikah semuanya memiliki nilai ibadah. Jika nikah adalah separuh agama, maka separuh yang lainnya adalah beramal.

Rasulullah SAW mengatakan hal ini terkait bahwa ini adalah sebuah pentujuk yang diriwayatkan oleh Imam Al Ghozal, bahwa

sesungguhnya jika ia telah menyempurnahkan separuh agamanya, maka bertakwalah kepada setengahnya yang lain.

Sehingga setiap dari kita yang berniat sungguh-sungguh menikah untuk meredam syahwat untuk mendapat ridho-Nya, maka sesunggunya adalah kita telah meraih ketaatan separuh agama, sisanya adalah beramal. Kita baru sempurna jika kita sudah meredam syahwat dan beramal sholeh.

Ketakwaan itu ada dua:

  1. Meredam syahwat
  2. Beramal yang banyak

Jadi kalau orang sudah meredam syahwatnya, maka ia sudah meredam syahwatnya, maka sisanya adalah perbanyak amal sholeh.

Menurut Imam Al Ghozali, pangkal dari syahwat itu adalah seksual. Maka orang yang sudah menikah secara halal, maka dia sudah teredam syahwatnya. Sehingga dia tidak memiliki alasan untuk menyalurkannya kepada yang haram.

Jadi tidak cukup setelah nikah semuanya berhenti. Masih ada PR untuk tetap produktif—untuk menjadikan pernikahanini menjadi sinergi dan melahirkan generasi yang hebat dan luar biasa.

Tugas dasar pernikahan adalah meredam syahwat. Karena demikian, sebagian ulama menghukuminya dengan tidak mutlak. Contohnya Ibnu Taimiyah—ulama bujang yang meredam syahwatnya dengan kesibukan dalam berilmu.

“Selama ia dapat meredam syahwatnya dan beramal, mkaa sudah sempurna agamanya. Ulama dulu juga ada yang bujang. Dan mereka gak ngenes.” –kata Ustadz Bendri sambil melihat ke bujang-bujang seisi aula-

 

Apakah setelah menikah beneran meredam syahwat?

Nyatanya banyak juga yang sudah menikah namun masih tepe-tepe ke mantannya. Masih melakukan upaya-upaya rendah seperti itu dan tidak menundukkan pandangan ke lawan jenis yang bukan suami/istrinya. Dengan demikian berarti ia sudah merusak tatanan pernikahan. Sejatinya ia tidak melakukan hal2 lain yang memberiarkan syahwatnya liar.

Dengan demikain, harus ada dalam suatu pernikahan, adanya Proyek Peradaban. Proyek yang dibentuk oleh suami dan istri untuk memperbaiki peradaban dengan pemikiran bersama dan terukir dalam sejarah, sehingga ada prestasi yang diiwariskan kepada anak cucunya.

“Banyak yang sudah nikah malah tidak Sholat Subuh Jamaah di masjid,
dan malah menarik dirinya dari tuga dakwah”

 

Berdasar penuturan Ustadz Bendri, tujuan pernikahan adalah untuk 2 hal:

  • Meredam syahwat
  • Produktif dalam kebaikan bersama

 

Mawaddah

Pasangan yang kita dapatkan selayaknya yang dapat meredam syahwat kita. Prinsip mawadah ditunjukan dengan kedekatan fisik.

“Prinsip mawadah itu pengen nempel terus” kata Ustadz

Rasul pernah berkata kepada seorang Muhajirin yang akan menikahi wanita Anshor,

“Lihatlah dulu wanita tersebut. Agar ada ketertarikan padamu.”

Ini yang mendasari Jamilah—Habibah menggugat cerai suaminya. Pasalnya, Jamilah ingin menyerahkan cintanya pada suaminya, namun tetap saja tidak ada gairah yang menjadikannya cinta pada suaminya tersebut. Pada suatu riwayat, saking tidak tertariknya dengan suaminya, jika Jamilah melihat suaminya, ingin sekali ia meludah.

Jamilah mengakui bahwa ia menggugat cerai bukan karena kekurangan ibadah suaminya, tapi adalah karena Jamilah tidak dapat memberikan cintanya pada suaminya. Maka Rasul memakluminya dan berkata bahwa itu adalah hal yang wajar. Namun, tetap—sikap yang terbaik adalah sabar terhadap pendampingnya.

Jika wanita melakukan empat amal berikut:

  1. Menunaikan shalat wajib
  2. Puasa di bulan ramadhan
  3. Menjaga kesuciannya
  4. Taat kepada suaminya

“Maka masuklah ke surga dari pintu manapun yang kamu suka”

Jamilah sadar akan kapasitasnya. Dia sholehah, dia menunaikan sholat, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kesucian. Namun dia mengkhawatirkan jika dia tetap bersama suaminya, dia tidak dapat taat kepadanya karena tidak tertarik.

 

Aku mencintaimu walaupun

Ada level yang lebih tinggi bagi orang yang sudah memahami. Mereka bukan hanya menikah untuk meredam syahwatnya. Namun jauh yang lebih mulia dair itu adalah untuk berkomitmen terhadap janjinya pada Allah.

Ketika orang akan menikah, maka dikatakan kepada mempelainya,

”Aku memilihmu karena.”

Namun ketika sudah berkeluarga, maka dikatakan kepada istrinya,

“Aku mencintaimu walaupun.”

 

Komitmen itu dilatih. Maka dari itu bagi mereka yang mencari pasangan yang sempurna—bersiaplah jomblo selamanya.

 

Lelaki Sejati

Ibnu Mubarok bercerita tentang seorang lelaki di jamannya yang prinsipnya luar biasa. Dia menikahi seorang wanita dari perantara gurunya—yang ia sendiri belum melihatnya.

Ketika malam pertama dan membuka pintu kamarnya, ternyata fisik istrinya mengecewakan hatinya. Tapi ia berprinsip “Aku mencintaimu walaupun”. Setelah itu dia terus memperlakukan istrinya secara ma’ruf selama 25 tahun, dia tidak menikah lagi, tidak selingkuh, bahkan tidak mencari yang lain. Istrinya sakit setelah 25 tahun setelah itu.

Sang istri yang sedang sakit itu berpikir bahwa umurnya tak akan lagi panjang, namun ada pertanyaan yang mengganjal hatinya. “Suamiku, ada hal yang ingin aku tanyakan pada saat awal menikah denganmu.” Kata sang istri. “Aku tahu kamu pada saat malam pertama itu kamu sepertinya tidak bergairah denganku, yang justru aku heran adalah kenapa sampai sekarang kamu tidak menceraikan aku dan tidak menikah dengan wanita lain?

Dijawab oleh suaminya,

“Ketahuilah istriku. Saat aku menikah, aku mengucap janji dengan Tuhanku. Maka dari itu aku menepati janji kepada Tuhanku dan Tuhanku menyuruh aku untuk memuliakan dirimu sebagai istriku. Karena itulah, ketika aku berkhianat pada Tuhanku, kamu boleh katakan aku telah berkhianat terhadap syahadatku. Maka selama syahadatku masih kuat, percayalah aku akan komitmen terhadap dirimu.”

Yak, lalu terdengar keriuhan dari sisi akhwat. :3

Dear Akhwat,

pilihlah lelaki yang sejak mudanya komitmen terhadap syahadatnya, maka ia akan komitmen terhadap akadnya setelah ia menikah.

 

Maka bagi wanita rumusnya adalah separuh agamaku bersamamu. Menjadikan dirinya menjadi bintang dan menjadi bidadari untuk suaminya. Itulah kenapa pernikahan Rasul menjadikan istri-istrinya bintang. Aisyah contohnya, yang menjadi produktif dan menjadi penghapal hadist. Zainab, dikenal sebagai istri yang ahli sodaqoh hingga mendapatkan julukan ummul masaakin. Hafsah, istri Rasul yang ahli ibadah, ahli shiyam, ahli qiyaam, hingga setelah menikah dengan Rasul, ia tak pernah meninggalkan sholat malam. Maimunah, dikenal sebagai penulis wahyu. Istri-istri Rasul lainya pun juga menjadi bintang—menjadi produktif dalam keunggulan amalannya.

 

Dear Akhwat, maka serahkan dirimu pada seseorang yang rumusnya adalah:

“Aku akan membawamu bukan hanya sekedar bulan madu di dunia, karena kita kelak akan bulan madu sepuas-puasnya di syurga. Maka siapkansegala bekal untuk kita ke syurga, Sayangku”.

 

Jadi buat ikhwan, janganlah engkau menyatakan lamaran, “Maukah kau menjadi istriku”, namun katakanlah kepada calon istrimu,  “Maukah telapak kakimu menjadi surga untuk anak-anakku nanti?” #eaaa

 

Ada sebuah cerita tentang teman Ustadz. Suaminya saat itu mahasiswa, sedangkan sang akhwatnya sudah alumni, lebih senior dari si ikhwannya. Akhwat ini menjadi pimpinan akhwat di Lembaga Dakwah Kampus, d an ikhwannya menjadi pimpinan ikhwan. Tiap rapat, si akhwat ini pasti berbeda pendapat dengan si ikhwan ini—selalu diawali dan diakhiri dengan keributan. Pokoknya, ada aja yang bikin merka ribut. Bahkan ketika berada di lapangan selalu tidak kompak. Akhirnya didamaikanlah oleh Ustadz mereka. “Dakwah kita tidak akan berjalan jika seperti ini.” tukas Ustadznya. Si Akhwatnya merasa bahwa dia senior dan berkata bahwa dia lebih berpengalaman.

Si Ikhwannya tidak melawan, hanya berkata, “Gini deh, Ukhti. Maaf nih. Saya lihat dari beberapa lama kita ribut. Saya khawatir kalo begini terus—gak ada ikhwan yang mau sama Ukhti. Kasihan. Gini deh, gimana kalo kita nikah aja.”

Si akhwatnya langsung naik pitam, “Apa maksud kamu!”

“Lha maksud saya sederhana. Dengan pernikahan ini yang pertama kita gak ribut lagi dan kita bisa berdakwah dan bisa mencapai surga. Selesai.”

Si Ikhwan itu pun menantang akhwat seniornya itu. Si akhwat itu menerima tantangan si ikhwan dengan amarah.

“Setelah menikah—kita akan membuat sesuatu yang lebih hebat. Kamu tidak lagi membuat keributan. Ketika kamu nikah sama saya, dan saya jadi imam kamu. Dan setelah ini kita akan membuat proyek dakwah bareng. Karena tujuan kita adalah surga.”

Ketika ditanya oleh Ustadz Bendri tentang pernikahan keduanya setelah memiliki anak, “Mbak masih ribut gak sampe sekarang?”

Kata si akhwat yang kini sudah menjadi ibu 3 anak dan istri dari si ikhwan, “Oh masih! Justru itu yang membuat kita masih bertahan. Karena kita harus paham bahwa sejarah kami bertemu adalah dengan keributan. Maka pernikahan ini akan bertahan selama kita ribut.” #pfft

 

Ustradz Bendri berpikir bahwa pernikahan yang diceritakan tadi agak menyimpang—secara proses. Tapi beliau mengerti benar bahwa sang akhwat ini adalah aktivis. Tidak ada yang ia cari di dunia ini kecuali Ridho Allah SWT. Maka ia mengetahui betul kalimat “Separuh Agamaku Bersamamu” ia tidak meletakkan pernikahan itu menjadi suatu hal yang membius dia dan membuat dia terganjal masuk surga karena cinta yang lebih besar dari cinta kepada Tuhan dan Rasulnya.

 

Cerai karena Allah

Abdurrachman bin Abu Bakar menikah dengan Atika binti Zaid bin Amar bin Nufail—seorang Janda. Setiap yang menikah dengan Atika, selalu syahid. Abu Bakar berpikir bahwa Atika ini adalah muslimah yang hebat, ia ingin agar anaknya juga syahid seperti suami-suaminya terdahulu.

Setelah mereka menikah, mereka begitu mesra—tapi itulah yang membuat mereka terbius. Kemesraan mereka itu terlihat oleh publik dan membuat orang-orang yang melihatnya menjadi iri. Hingga Abu Bakar merasa ada yang mengganjal ketika anaknya sudah mulai terlambat sholat subuh di takbir pertama. Esok harinya terlambat satu rokaat sholat subuh. Besoknya begitu lagi, dan akhirya Abu Bakar berpikir bahwa alih-alih menjadi mujahid, anaknya malah menjadi orang yang lemah. Abu Bakar takut pernikahannya anaknya itu mawadah—mesra,  tapi tidak berkah.

Dalam konteks perceraian Abdurrahman dengan Atika, menjadikan perceraian itu adalah perceraian terindah dalam sejarah. Setelah perceraian itu, masing-masing dari mereka merenung selama setahun. Hingga Abu Bakar berpikir bahwa mereka sudah bertaubat dan akhirnya menikahkan mereka kembali. Sebulan setelah itu, Abdurrahman syahid.

 

Jodoh Dunia Akhirat

Ada tiga jodoh yang telah ditetapkan:

  1. Jodoh dunia tapi tidak di akhirat.

Di dunia  bersama, tapi di akhirat tidak. Seperti Asiyah dengan Firaun—Asiyah beriman sedangkan Firaun tidak. Juga dengan pasangan yang sama-sama kafir. Mereka tidak akan disatukan di akhirat.

  1. Tidak jodoh di dunia, tapi jodoh di akhirat.

Ini terjadi ketika sesama mukmin menikah, salah satu dari merka keburu meninggal. Maka mereka akan disatukan di surga.

  1. Jodoh di dunia dan di akhirat.

Pernikahan sesama mukmin yang diridhoi Allah dan cintanya kepada suami/istrinya tidak melebihi cinta kepada Allah.

 

“Nikahilah lelaki yang baik agamanya. Kalau ia dapati istrinya cantik, ia akan memuliakannya. Jika ia tidak mendapat istri yang tidak sesuai dengan seleranya, dia tetap menjaga kehormatannya. Tidak mempermalukannya, dan tidak menyakitinya.” – Hasan Al Basri-

 

Jangan terjebak dengan cinta yang membuat kita tidak produktif dengan amal. Cinta yang membuat kita lupa kepada Allah tidak akan membawa kita kepada surga. Sebagaimana cerita tentang Umar bin Abdul Aziz dengan Fathimah. Suatu saat dia naksir dengan seorang wanita cantik dan lajang. Saat itu beliau ingin untuk berpoligami, sedangkan sang istri benci dengan poligami, sehingga istrinya tidak mengizinkan. Umar meskipun dia punya hak untuk menikah lagi, dia menghormati keputusan istrinya. Dia tidak selingkuh dan tetap berkomitmen. Tapi karena terbayang oleh gadis tersebut, hingga ia jatuh sakit. Akhirya istrinnya merasa bersalah dan akhirnya dalam hati mengizinkan suaminya berpoligami. Fathimah kemudian mendatangi si wanita tersebut dan meminangnya untuk menjadi madunya. Gadis tadi bersedia jadi madu.

Fathimah berencana membawa gadis ini sebagai kejutan bagi suaminya. Ketika dibuka pintu kamarnya, Umar terkejut, hingga istrinya berkata, “Suamiku, dengan ini aku izinkan kamu menikah lagi.”

Sang gadis pun mendekat dan bertanya pada Umar, “Benarkah Anda ingin menikahi saya?”

Namun apa yang dikatakan Umar sungguh diluar dugaan, “Aku pernah mencintaimu, tapi aku tidak mau menikahimu.” Sang gadis pun terkaget.

“Jika aku mencitaimu saja membuatku sakit, bagaimana jika aku menikahmu? Mungkin aku bisa mati.” Kata Umar.

Akhir cerita, karena Umar tidak mau silaturahmi dengan gadis tersebut putus, gadis itu kemudian dinikahkan dengan keponakan Umar bin Abdul Aziz.

Resume by : Syarif Hidayatullah

Link : saungkertas.com/wp/separuh_agamaku_bersamamu/

 

 

Kultwit Ust. Bachtiar Nasir, Lc. – “JODOH”


26 Oktober 2013

  1. Kepada ikhwan dan akhwat yg masih menjomblo, segeralah menikah jika sdh merasa mampu. Saya siap bantu insya Allah.
  2. Nikah itu nggak cukup hanya bermodal Cinta dan Kerja, perlu tau psikology nikah selain fikih nikah, perlu belajar parenting sblm pny anak.
  3. Sblm menikah pelajari ilmu kesehatan reproduksi pada ahlinya, juga ilmu keuangan keluarga, hrs tahu juga hukum positif nikah.
  4. Syariat Nikah dlm Islam didasari Fitrah psikis & biologis manusia yg membutuhkan nikah. Berbeda dgn hewan yg lampiaskan hasrat sesukanya.
  5. Saya punya lembaga APWA (Arrahaman Pre Wedding Academy) sdh meluluskan 6 angkatan. Sdh banyak kami nikahkan diantara sesama peserta.
  6. Dari sekian bnyk kasus di KUA yg terbnyk adlh masalah perceraian, bkn krn suami yg menalak tp isteri yg minta khulu’ (lepas dari suami).Knp?
  7. Ada banyak faktor penyebab khulu’, yg utama adlh kegagalan suami memahami dan membina isterinya, akibat egois dan sikap kasar.
  8. Cara cari jodoh idaman; mulail dgn menjaga kesucian diri, berhiaslah dgn sifat dan alhlak mulia, utarakan maksudmu pd Allah & mhn …
  9. Mohon kemantapan hati pada Allah utk menikah, selanjutnya utarakan maksudmu pd org tua dan mohonkan doa dan ridha keduanya.
  10. Utarakan pula kemantapan hatimu pd org bijak yg kau percaya dpt membantumu, atau pada teman dktmu yg kau percaya kedewasaan dan keislamannya
  11. Jika sdh ada calon yg diharapkan silahkan cari tahu ttg dia lwt teman dktnya, cocokkan data org itu dgn kriteriamu. Sekufu’ itu penting!!
  12. Kriteria sekufu’ utamanya dlm urusan agama, spt aqidah, ibadah, akhlak& ketaatannya. Boleh jg dlm urusan pendidikan, pola fikir, komunikasi,
  13. Jika merasa sdh cocok, silahkan komunikasi dgn media/chatting sekedarnya utk mendalami kepribadiannya, jgn terjerumus dlm syahwat.
  14. Jika sdh cukup data ttg si dia, misalnya; bkn dari kelompok aliran sesat secara agama (krn ibadahnya keliatan hebat, eh ternyata ahmadiyah).
  15. Atau bukan anak durhaka pd ortunya, atau tdk berpenghasilan yg haram, ada kesiapan untuk membangun visi Islam.
  16. Cek jg apakah si calon pelaku 7 dosa besar? (Syirik, Membunuh, Mencuri, Berzina, Minum Miras/Narkoba, Meninggalkan Rukun Islam yang Lima).
  17. {ولا تقولوا لمن يقتل في سبيل الله أموات بل أحياء ولكن لا تشعرون} [البقرة:154]
  18. QS. 2:154. “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
  19. Jangan takut putus cinta dan kehilangan si dia, jk jelas2 hubunganmu sdh menyimpang, Allah yg akan gantikan dgn yg lebih baik. Bertobatlah.
  20. Yg berani tegas putuskan cintanya yg tlh menyimpang biasanya akan menghadapi dilemma bahkan ancaman dari si dia, jgn hiraukan tawakkal sj.
  21. Dimasa sendirian jaga kesucian diri krn Allah, perbnyk tobat & sibukkan diri dgn berbagai ketaatan, jgn ulangi lg cara yg salah cari jodoh.
  22. Jodoh idamanmu sdh Allah siapkan. “Lelaki yg baik utk perempuan yg baik, lelaki yg kotor utk perempuan yg kotor”.
  23. INGAT!, semua makhluk HARUS BERPASANGAN, hanya Allah saja yang boleh TUNGGAL.
  24. Kalau ada org baik Allah jodohkan dgn yg buruk, baik dgn sepengetahuannya sejak awal atau diketahui stlh menikah,
  25. Itu artinya Allah hendak menguji keimanan & kesabaran si hamba lwt pasangannya. Ada bnyk org besar yg hebat krn lulus ujian lwt pasangannya.
  26. Contoh; Asiah, beliau tahu kebejatan Firaun sjk sblm menikah namun beliau sabar dlm imannya, krn perjodohan beliau diluar kendali dirinya.
  27. Akibatnya; Allah siapkan utk Asiah istana di Surga bertetanggaan dgn Allah. Jgn tny brp berat ujiannya pny suami Firaun, krn sabar dlm iman,
  28. {إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات لهم جنات تجري من تحتها الأنهار ذلك الفوز الكبير} [البروج:11]
  29. QS. 85:11.” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.”
  30. Asiah ditaqdirkan tdk pny anak dari Fir’aun tp membesarkan 2 org hebat (Musa as dan Masyithah) di Istana kebejatan.
  31. Contoh jg; 2 lelaki saleh (Nabi Nuh & Luth) Allah jodohkan dgn perempuan tdk salehah, ke2nya sabar dlm iman pd taqdir Allah, jd org hebat.
  32. Btp dhsyatnya pengaruh Isteri thd anak, walau ayahnya Nabi tp Kan’an anak Nuh as jd anak durhaka,
  33. Walau Asiah bersuamikan Fir’aun tinggal diistana kebejatan, tapi dpt membina Masyithah dan Musa jd org hebat.
  34. Jodoh idaman tak selalu sesuai dgn keinginan kita, sebaliknya diri kitalah yg hrs jadi pilihan para pencari pasangan. Pantaskan diri dulu!!.

 

Don’t Worry to Marry #MajelisMalamAhad 8-2-2014


Alhamdulillah, kemarin saya diberi kesempatan untuk hadir di Kajain Malam Ahad di AQL, tebet. Pengisinya adalah ustadz Ismedias, alhamdulillah materinya sangat bagus.
Terlebih lagi, ternyata yang dateng ke kajian juga beberapa teman-teman kampus juga. Jadi berasa reunian. Hehe…

MMA with ust.Ismeidas

 

Nikah itu adalah awal dari suatu peradaban. Nikah pada dasarnya adalah pembentukan generasi yang seharusnya tangguh. Jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah setelah kita. Maka dari itulah pernikahan harus dipersiapkan sematang mungkin.

Menikah layaknya seperti naik gunung, kau temui ia begitu indah. Kau lihat dari lukisannya saja begitu indah. Apalagi seperti gunung Wijaya di Papua, yang dikenal karena keindahannya dan satu-satunya gunung di Indonesia yang memiliki salju abadi.

“Gunung itu menjulang tinggi
Di kakinya kau dapati padang rumput yang berseri
Di tebingnya ada untaian indah pelangi
Hingga puncaknya adalah salju abadi
Kadang kau temui jalanan menanjak
Kadang kau harus berjalan merangkak
Tapi jangan putus asa hingga kita ke puncak
Hingga disana kita bisa tersenyum dan bersorak”

Pergi ke gunung begitu indah kelihatannya, begitu memuaskan bila sampai di puncak dan memandangi kesekelilingnya, namun jangan coba-coba naik gunung tanpa bekal, karena bukan keindahan yang akan di dapat, namun kematian yang akan menanti.

Begitupun pernikahan, hanya yang kuat hati nyalah yang akan sampai pada ujung indahnya. Mencicipi mawadahnya, merasakan indahnya berjuang di jalannya, hingga akhirnya bertemu kembali di surga. Aamiin.

Kesiapan pernikahan utama bukanlah uang, karena layaknya pergi ke gunung, bukan uang yang dibutuhkan, namun akomodasi, perlengkapan yang memadai, fisik yang kuat, dan pengetahuan yang mumpuni.

“Jika kalian mampu wahai sahabat, maka menikahlah.”

Dalam pra pernikahan, yang biasa memulai adalah laki-laki. Janganlah menunggu mapan untuk menikah, karena rezeki adalah Allah yang memberi, bukan kita yang menghasilkan. Syarat untuk menikah adalah berakal, sudah baligh, dan dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Karena jika selain itu pertimbangannya, maka tidak akan dimulai prosesnya.
Jika sudah berniat untuk memulai, maka luruskan niat kebaikan hanya untuk Allah. Alkisah, seorang lelaki sudah cukup baginya usia untuk menikah, alhamdulillah beliau sudah hapal 15 juz Al-Qur’an. Namun apa mau dikata, sang lelaki ini terkenal buruk rupa. Sudah ditolak berkali-kali oleh akhwat yang beliau propose.Ia sempat putus asa akan jodoh baginya. Hingga suatu saat ia mengadu ke ustadznya akan hal ini. Sang ustadz berkata padanya, “wahai Fulan, mulai sekarang ubahlah pandanganmu, yang awalnya untuk mengajak muslimah untuk menikah dan menjadi istrimu, ubahlah menjadi membahagiakan muslimah tersebut.” Apa maksudnya dibalik itu? Setidaknya, meski ditolak, dia tidak akan sakit hati, karena pandangannya sekarang adalah membuat muslimah bahagia bahwa masih ada seseorang yang datang dan melamarnya. Demikian.

Dear Akhwat,
begitu tinggi anganmu untk menjadikan calon imammu nanti pasangan di surga. Padahal yang sebenarnya sedang kau cari hanyalah pangeran di dunia. Boleh jadi mereka yang datang sebelum waktu-waktu itu adalah calon imam yang mampu mengantarkanmu ke surga.

Mari saya ceritakan tentang sosok yang kau akan takjub, ikhwah fillah. Cerita tentang Ummu Sulaim.
Ummu Sulaim awalnya memiiliki suami bernama Malik bin An-Nadhar. Semenjak islam datang, Ummu Sulaim mengazamkan dirinya untuk memilih islam sebagai jalan hidupnya. Namun sayangnya, keislamannya tidak disertai dengan keislaman sang suami, sehingga suaminya meninggalkannya ke Syam dan meninggal di perjalanan kesana. Mulai saat itu Ummu Sulaim menjanda dan menjadi orang tua tunggal bagi anaknya semata wayang.
Ketika bertemu dengan Rasulullah, Ummu Sulaim menghadiahkan anak satu-satunya itu untuk diasuh sebagai pendamping Rasulullah, dan Rasul menjadikannya sebagai sahabat termuda yang sangat disayang. Dia adalah Anis bin Malik, sahabat yang kau jumpai banyak kisahnya.
“Wahai Rasulullah, ini Unais (nama kecil Anas). Aku mendatangi engkau agar dia mengabdi kepada engkau. Maka berdoalah kepada Allah bagi dirinya” Maka, baginda bersabda, “Ya Allah, perbanyakkanlah harta dan anaknya” (Dala’ilun-Nubuwwah, 6/194-195).

“Belum sempurna iman seorang diantara kalian hingga aku lebih dicintai daripada dirinya, anaknya, keluarganya, dan semua manusia” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sejak saat itu Anas bin Malik mendapat pengasuhan penuh di rumah Rasulullah SAW, yang mulai mengantarkannya kepada kedudukan mulia di kalangan sahabat nabi dan menjadi penghafal banyak hadist Rasulullah.
Cerita lain tentang Ummu Sulaim r.a. Selang waktu berjalan sepeninggal suaminya, Ummu Sulaim didatangi oleh Abu Talhah Al Anshori yang datang untuk meminangnya. Abu Talhah adalah tokoh terpandang dan dikenal akan kedudukan dan keberaniannya pada waktu itu. Sayangnya, saat itu Abu Talhah masih musyrik dan belum masuk islam. Lalu apakah yang dikatakan Ummu Sulaim kepada orang yang datang melamarnya tersebut?
“Wahai Abu Talhah, apakah kau engkau tahu Tuhan yang kau sembah itu terbuat dari kayu?” tanya Ummu Sulaim kepada Abu Talhah.
“Ya”, jawab singkat Abu Talhah.
“Tidakkah engkau malu menyembah kayu?” hingga Ummu Sulaim melanjutkan perkataannya, “Jika engkau masuk islam, maka aku bersedia untuk menikah denganmu. Aku tidak mengharapkan mahar selain islam.”
Sahabat, mari kita memperbaiki diri untuk Allah. Memurnikan kecintaan kita hanya untuknya. Berjuang di jalan dakwahnya bersama pasangan kita di dunia yang dapat mengantarkan kita ke surga-Nya.
***

Dear akhwat,
jodoh itu adalah ikhtiar, dan ikhtiar itu tidak hanya menunggu.
engkau selalu menunggu pangeranmu di balik bilikmu sambil malu-malu,
padahal boleh jadi calon-calon pangeran surgamu telah banyak melirikmu,
terbelalak dirimu ketika usia telah memakanmu,
dan masih bertanya dimanakah jodohmu disetiap ujung kegalauanmu,

Ada sebuah kisah nyata yang diceritakan Ustadz Ismeidas kemarin. Alkisah seorang lelaki, sebut saja Fulan. Si Fulan ini adalah seorang yang lurus dan baik agamanya. Selalu terjaga pandangannya dari apa-apa yang diharamkan oleh agama. Suatu hari ia berpapasan dengan seorang akhwat di tangga di sebuah lembaga yang ia ada di dalamnya. Terpesona ia dengan eloknya akhwat itu, seraya ditundukkan wajahnya dan beristighfar ia. Setelah momen itu, entah kenapa semakin sering ia temui ia berpapasan dengan akhwat itu di dalam lembaga itu. Tiap kali bertemu, senantiasa istighfar yang ia ucapkan, dan senantiasa ditundukkan matanya.
Merasa tidak cukup kuat dalam menjaga dirinya, ia pun keluar dari lembaga itu agar tidak berpapasan lagi dengan sang akhwat.
Hingga suatu ketika, telah datang baginya waktu dimana ia siap untuk menikah. Dia sampaikan ke ustadznya, dan ustadznya memberikan beberapa CV akhwat yang ia akhirnya pilih salah satu untuk kemudian di follow up. Ketika sudah dipilih olehnya, tidak ada rasa sayang atas apa yang telah dipilihnya. Akhirnya, atas izin ustadznya, si Fulan ini meminta foto akhwat tersebut untuk ia selalu bawa kemanapun. Ia simak baik-baik dikala waktu senggangnya. Agar timbul rasa cinta pada akhwat yang telah dipilihnya. HIngga lambat laun timbul rasa suka pada akhwat yang fotonya ia genggam kemana-mana itu.
Suatu ketika, si Fulan ini sedang tafakur alam bersama sahabat-sahabatnya. Kebetulan masih ada sinyal dimana ia berpijak saat itu. Tiba-tiba ada telpon dari ponselnya, dan ketika diangkat, itu adalah dari istri ustadznya yang memberikan CV akhwat kepadanya. Istri ustadznya tersebut mengatakan pada si Fulan bahwa akhwat tersebut menolak si Fulan.
Seketika itu hancur hati Fulan. Di kaki gunung itu ia kuburkan perasaannya bersamaan dia kuburkan foto yang digenggamnya. Si Fulan orang baik, tak ada hal yang membuat ia layak ditolak, namun apa daya ia ditolak oleh akhwat yang ia harus berusaha untuk mencintainya. Karena itu yang dipilihnya.
Sepanjang jalan ia obati luka hatinya, hingga ia kembali ke ustadznya dan ustadznya memberikan lagi dua CV akhwat. Si Fulan cukup hati-hati, hingga dia berkata pada ustadznya, “Ustadz, adakah satu akhwat lagi yang bisa kau berikan sebagai pilihan untukku?” mungkin Fulan ingin memantapkan hatinya terhadap apa yang ditawarkan sang ustadz. Wallahu a’lam.
Sang ustadz kembali dengan membawa satu CV lagi, dan ketika disimak, itulah akhwat yang dulunya ia hindari. Subhanallah. Wallahu a’lam bisshowab.

“Ingatlah kawan, bahwa kita tak mempu mengubah angin, tapi kita bisa mainkan layarnya.
Kita tak mampu mengalihkan arah arus air, namun kita dapat memainkan kemudinya.
Ingatlah, yang mnurunkan sakinah adalah Allah
Katakanlah,
Ana brsama antum karenyaNya, jika tidak ada Nya, maka tidak ada cinta itu.
Karena niat karena Allah,tidak akan pernah kalah.”

Masih dalam konteks yang sama, Ustadz Ismeidas memberikan tausiyah tentang impian keluarga sakinah. Tidak lain tidak bukan, yang dijadikan contoh tauladan adalah keluarga Rasulullah SAW.

1.Rasulullah adalah Pecinta Sejati
Rasulullah tidak memanggil istrinya, melainkan dengan panggilan sayang. Rasul memanggil “Yaa Humairok” kepada Aisyah—istriku, yang pipinya kemerah-merahan. Kadang ia panggil, “Yaa Ais” dimana itu adalah panggilan manja Rasul kepada Aisyah. Rasul bahkan bermain kejar-kejaran dengan Aisyah r.a. Dan saat makan, Rasul meminta makanan yang ada di tangan Aisyah dan memakannya dari bekas gigitan Aisyah, bukan dari piringnya. Rasul juga tak pernah keluar rumah saat Aisyah marah. Ketika Aisyah marah, dipencet hidung aisyah pelan-pelan, hingga marahnya mereda berganti senyum yang merekah. Pernah suatu waktu Rasul tidur di luar, dan didapati ditanyakan kepada Rasul keesokan harinya, mengapa Rasul tidak membangunkannya saat ia datang malam hari. Ternyata Rasul tidak ingin mengganggu waktu tidur istrinya itu. Bahkan, suatu waktu, Rasul dan sahabat sedang dalam perjalanan di gurun, anting yang kata Rasul adalah kesukaan dari Aisyah jatuh. Padahal itu bukan anting yang mahal. Namun Rasul turun dan mencarinya. Hingga sahabat pun turun dan ikut mencari hingga menemukan anting itu. Subhanallah.

2.Suami Terbaik
Ustadz Ismeidas berkata, jika ada suatu pertengkaran keluarga, yang patut disalahkan adalah suaminya. Mengapa demikian? Karena jika istri yang bawel, itu wajar. Jika hingga berantem, maka suami yang gagal mengendalikan dirinya. Menjadi lelaki tidak boleh ikutan bawel kata Ustadz, cukup nasehatin sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, jika belum cukup, maka pisah ranjang, jika belum cukup, bisa dengan talak, itupun membutuhkan proses yang tidak serta merta. Rasul pun, jika Aisyah sedang marah, Rasul akan diam hingga Aisyah marahnya mereda. Begitupun Umar, singa padang pasir, pemimpin di banyak peperangan. Satu-satu nya manusia yang apabila setan melihatnya, maka setan akan berputar mencari jalan yang lain untuk menghindarinya, pun hanya diam ketika istrinya marah. Ketika ditanyakan mengapa, Umar menjawab, “Dia sudah memasak untukku, dia juga yang membesarkan anak-anakku, lalu mengapa aku tidak mendengarkannya?”

3.Menikah Bukan Sekedar Mencari Temen Bobo
Visi menikah adalah untuk bahagia dunia akhirat. Tidak hanya merasakan indahnya cinta di dunia, namun juga bagaimana meluruskan niat untuk cinta pada-Nya dan menjalani hidup dengan ridho-Nya, sehingga dapat berkumpul kembali di surga-Nya.
mungkin banyak sekarang beredar pemahaman tentang “Cinta tapi beda”, dimana cinta sesama makhluk diletakkan diatas cinta diatas Tuhannya. Cinta dunia yang akan didapatkannya, namun hanya kehinaan di neraka yang mereka dapat setelahnya.

4.Menikah itu Direncanakan dan Disiapkan
Apapun yang kita punyai sekarang, insyaAllah cukup, asal serius ditujukan untuk memenuhi setengah dien kita. Siapkan bekal, kawan! Jika kita ke gunung saja membutuhkan bekal yang kita bawa bersama carrier kita, kita pun harusnya mempersiapkan bekal lebih untuk jalan kita ke surga nantinya.

5.Memilih Satu Bunga, Bukan Sekedar Penantian
Ada suatu kisah seorang guru di sebuah taman kanak-kanak. Guru tersebut menyuruh murid-muridnya yang masih kecil untuk mengambil satu bunga di taman untuk diberikan kepada sang guru. Guru tersebut memberi waktu 5 menit untuk mereka. Bergegaslah anak-anak ini ke taman dan dipetiknya satu bunga lalu ia bawa ke kelas seperti perintah gurunya.
Lalu, sang guru berkata, “Anak-anak, ambillah lagi satu bunga, namun yang ini adalah bunga paling indah yang kalian temui di taman. Ambillah satu lalu bawa ke kelas”. Akhirnya anak-anak itu kembali ke taman mereka, dan apa yang terjadi? Banyak bunga-bunga berguguran, kawan. Seorang anak memetik salah satu bunga, berjalan ia satu langkah, ditemuinya bunga yang kelopaknya lebih menawan, ia petik lagi, berjalan ia beberapa langkah lagi, ditemuinya bunga yang lebih indah warnanya, ia buang lagi apa yang digenggamnya, ia petik lagi, dan tak pernah selesai hingga waktunya habis.
Sahabat, ini mengingatkan kita, bahwa memilih jodoh adalah memilih satu, dan pegang erat-erat.
Itulah mengapa, bagi seorang akhwat, jangan sekali-kali menceritakan bagimana elokn teman akhwatnya kepada suaminya. Karena suami akan membandingkan dan bisa timbul rasa sesal dalam hati bila sahabat yang kau ceritakan lebih elok daripadamu.

6.Karena Cinta tak Butuh Banyak Alasan
Kembali penulis sampaikan kisah. Ada seorang gadis yang disukai oleh seorang lelaki. Gadis itu bertanya kepada sang lelaki, “Apa alasanmu mencintaiku.” Lelaki itu bingung menjawabnya, dan sang gadis tidak mau menerima lelaki yang tidak mengemukakan alasan untuk mencintainya. “Baiklah, aku mencintaimu karena senyummu yang manis, aku mencintaimu karena matamu yang lentik, aku mencintaimu karena perilakumu yang manja” Sang gadis pun tersipu malu dan akhirnya memutuskan untuk menerima sang lelaki itu.
Suatu waktu, sebelum mereka menikah, sang gadis ini mengalami musibah yang tidak disangka-sangka. Dia mengalami kecelakaan hingga membuatnya terbaring di kasur rumah sakit.
Sang lelaki datang menghampirinya dan duduk tepat disampingnya,
“Wahai calon istriku, engkau dulu bertanya mengapa aku mencintaimu. Aku berkata padamu bahwa aku tertarik dengan senyummu yang manis, namun sekarang senyummu tak lagi manis. Aku berkata padamu bahwa aku mencintaimu karena matamu yang lentik, sekarang matamu bahkan sulit untuk terbuka walau setitik. Aku berkata padamu bahwa aku mencintaimu karena perilakumu yang manja, sekarang engkau hanya terbaring disini tak berdaya. Kini kutahu bahwa aku mencintaimu bukan karena alasan-alasan itu. Dan aku akan tetap disini menemanimu, wahai kekasihku.”
Kawan, namun ingatlah, ada suatu alasan yang lebih hebat dan surga menjadi balasannya.
Seorang sahabat pernah mengingatkanku bahwa “Cinta akan menghilang bersamaan dengan menghilangnya sebab. Maka dari itu, carilah sebab yang abadi, yang tak lekang oleh waktu. Itu adalah Allah. Sebabkan cinta karena cintamu kepada-Nya. InsyaAllah cinta itu akan abadi di dunia dan akhirat.”

7.Pernikahan tak Seindah yang Diimpikan
Kita tahu cerita tentang Asiyah, istri Firaun. Pernikahan yang dijalaninya tidak membuahkan sakinah. Namun Allah memuliakan Asiyah, meski ia bersuamikan Firaun.
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim’”
Cintanya kepada Allah mengalahkan segalanya. Mengalahkan cintanya pada kekuasaan yang dimiliki oleh suaminya yang zalim.

Demikian intisari dari tausiyah “Don’t worry to Marry” yang disampaikan oleh Ustadz Ismedias. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap kisah yang diceritakan beliau.
Mari sahabat, kita berlomba-lomba memperbaiki diri, karena sesungguhnya yang terbaik dari antara kita adalah yang terus belajar dari kesalahan masa lalu.
Semoga jodoh kita dapat mengantarkan kita ke surga-Nya. Dan mari kita luruskan niat dan pasrahkan bahwa mencinta karena hanya untukNya.
Wallahu a’lam bisshowab.

-srf-

Link artikel : http://saungkertas.com/wp/2014/02/dont-worry-to-marry/
Nama penulis : Syarif Hidayatullah
Twitter : @saungkertas
Blog : http://saungkertas.com

Artikel ini adalah hasil resensi dari event Majelis Malam Ahad – “Don’t Worry to Marry”

Jangan Menikah dengan Angan Angan


angan-anganSiang itu Nadia minta waktu untuk konsultasi kepada guru ngajinya. Kepada Mbak Fida, begitu ia biasa memanggil guru ngajinya, Nadia mulai mengadukan permasalahannya, bahwa sampai saat ini ia belum bisa sepenuhnya ‘cinta’ kepada Ahmad, suami yang baru menikahinya dua bulan lalu.

“Memangnya ada apa dengan Ahmad, Nad?” Hati-hati Mbak Fida bertanya. Maka meluncurlah dari mulut Nadia; “Ya sebenarnya Mas Ahmad itu baik, tapi ada sesuatu yang bagi saya kurang, mbak. Mestinya seorang aktifis pengajian itu hidupnya teratur, tertib, nggak pernah ketinggalan sholat jama’ah di masjid, nggak absen sholat lail, tilawahnya 1 juz setiap hari, selalu bersikap lembut kepada istri, sabar, rapi, bisa jadi teman diskusi dan curhat istri, sempat ngajarin istri, nggak suka nonton tivi, bisa ngambil hati mertua, begitu kan mbak?”

Sambil membenahi buku-bukunya yang berantakan (istrinya sedang keluar rumah dan sepulangnya dari kantor Farhan mendapati rumahnya dalam keadaan ‘porak poranda’), Farhan berkata pada dirinya sendiri, “aku pikir menikahi seorang perempuan berjilbab berarti urusan rumah tangga jadi beres. Mestinya istri itu bisa masak, terampil ngurus rumah, ibadahnya oke, pinter melayani suami, sabar, rajin, lembut, nyambung diajak diskusi, jago ngambil hati mertua…

Nadia dan Farhan boleh jadi mewakili sosok sebagian kita yang memasuki gerbang pernikahan dengan segunung angan-angan tentang sosok pasangan ideal. Tipikal seperti ini biasanya telah memiliki idealisme sendiri tentang pasangan, jauh sebelum hari pernikahan tiba. Idealisme itu begitu menguasai pikiran dan jiwa hingga terus terbawa sampai mereka menikah, dan ketika setelah menikah ternyata pasangannya tidak sebagaimana idealismenya, mereka kecewa dan kemudian cenderung menyalahkan keadaan atau pihak lain.

Memang sah-sah saja kita memiliki idealisme, termasuk idealisme tentang kriteria pasangan. Sayangnya, kebanyakan kita menyangka bahwa sebuah idealisme dapat turun begitu saja dari langit dan menjelma di hadapan kita. Padahal dengan demikian idealisme kita itu akhirnya malah menjadi angan-angan belaka.Idealisme tentang apapun tidak akan terwujud menjadi kenyataan jika tidak diperjuangkan.

Perhatikanlah firman Allah SWT dalam Surat An-Nisaa’ ayat 123: “Pahala dari Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula menurut angan-angan ahli kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi balasan dengan kejahatan itu dan dia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain Allah.”

Kembali kepada Nadia dan Farhan, idealisme mereka tentang kriteria pasangan telah menjadi angan-angan. Mereka mengira dengan menikahi seorang aktifis pengajian atau seorang perempuan berjilbab semua urusan menjadi beres, kehidupan rumah tangga menjadi penuh bunga harum semerbak mewangi, tidak ada kerikil apalagi ombak, pokoknya indah seperti yang dilukiskan dalam buku-buku. Angan-angan itu akan membuat mereka kecewa. Ya, sebabnya adalah seperti kata pepatah, ‘tak ada gading yang tak retak’ atau ‘nobody’s perfect’ (tak ada orang yang sempurna). Tidak ada manusia yang ma’shum (terjaga dari salah dan dosa) kecuali Rasulullah SAW. Semua manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak ada manusia yang pada dirinya hanya terdapat kelebihan saja, sebagaimana juga tidak ada manusia yang di dalam dirinya hanya ada kekurangan. Karena itu membayangkan pasangan kita adalah sesosok manusia tanpa cela hanya karena ia ikhwan atau berjilbab, menurut saya adalah pandangan kurang bijak.

Seorang ikhwan atau perempuan berjilbab adalah manusia biasa. Komitmen dan ketaatan mereka dalam beragama adalah suatu bentuk kesungguhan mereka dalam memproses diri menjadi Hamba Allah yang bertaqwa. Dan merupakan hal yang sangat manusiawi jika dalam menjalani proses tersebut terdapat kekurangan-kekurangan. Karenanya menjadi aktifis pengajian atau perempuan berjilbab itu bukanlah berarti mereka berubah menjadi malaikat yang tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak pula berarti mereka menjelma menjadi manusia tanpa cela.

Rumah tangga bahagia yang menjadi syurga bagi penghuninya adalah idaman setiap orang. Tetapi ia akan sekadar menjadi angan-angan bila tidak ada upaya dan perjuangan dari kedua belah pihak -suami-istri- untuk mewujudkannya. Begitu pula halnya dengan keinginan memiliki dan menjadi pasangan ideal yang diidamkan. Ia pun hanya menjadi angan-angan selama kita tidak berusaha memprosesnya menjadi kenyataan. Oleh sebab itulah pernikahan sebenarnya merupakan ladang amal dan jihad bagi orang-orang yang menjalaninya.

Dari uraian diatas kita dapat menyimpulkan beberapa hal: – Harus disadari bahwa yang bernama idealisme itu tidak begitu saja turun dari langit, tetapi harus diperjuangkan. Dengan begitu ketika kita memiliki idealisme tentang pernikahan dan pasangan ideal misalnya, kita sadar bahwa untuk mewujudkannya menjadi kenyataan adalah dengan memperjuangkannya atau dengan kata lain kita siap menjadikan pernikahan kita nantinya sebagai ladang amal dan jihad kita dalam memproses diri menjadi lebih berkualitas.

– Menyadari bahwa idealisme yang menguasai pikiran dan jiwa dapat berkembang menjadi angan-angan belaka. Menikah dengan membawanya serta hanya akan membuat kita menjadi pelamun, mudah kecewa, cenderung tidak bersyukur terhadap apa yang ada, bahkan menjadi orang yang suka menyalahkan keadaan atau pihak lain.

– Ingatlah selalu bahwa kita menikahi pasangan kita dengan segala apa yang ada pada dirinya berupa kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya untuk disyukuri, kekurangannya menjadi ladang jihad kita untuk memperbaikinya karena Allah. Dengan begitu kita tidak akan mudah kecewa terhadap segala kekurangan yang terdapat pada pasangan kita.

– Terakhir, camkan kata-kata ini … “Jangan menikah dengan angan-angan.” (red)

Sumber : http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/jangan-menikah-dengan-angan-angan.htm

Minggu atau Ahad ?


Assalamu’alaikum Wr.Wb…

Teman2 semua, di bulan Januari 2013 kita sudah mengadakan Kajian Majelis Malam Minggu Perdana, insya ALLAH untuk yang berikut2nya akan di ganti Menjadi Majelis Malam Ahad (MMA), kenapa diganti, mari disimak Artikel berikut :

Sejarah Penamaan Hari Minggu – Budayakan Ucapkan Hari Ahad dari Sekarang

Di masa kekaisaran Romawi Konstantin, agama resmi Romawi adalah pemujaan matahari, dan Konstantin adalah pendeta kepalanya. Ketika itu, Konstantin menghadapi kenyataan, 3 abad sepeninggal Yesus, penganut Kristen tumbuh berlipat-lipat. Kaum Kristen dan pagan mulai berperang. Situasi dianggap mengancam dan memecah belah Romawi.

Konstantin memutuskan untuk menyatukan Romawi dalam sebuah agama tunggal, Kristen. Caranya, mengalihkan para penganut pagan (polytheisme) pemuja matahari menjadi Kristen, dengan meleburkan simbol-simbol, tanggal-tanggal, serta ritus-ritus pagan ke dalam tradisi Kristen yang sedang tumbuh. Melalui Konsili Nicaea, Konstantin berhasil menciptakan agama hybrid yang dapat diterima kedua belah pihak. Konstantin juga menggeser hari Sabat Yahudi sebagai hari peribadatan Kristen, menjadi hari Minggu agar bertemu dengan hari kaum pagan memuliakan matahari, Sun-day.(Majalah Insani, April 2005).

Berikut Kutipan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Minggu:

Minggu, hari Minggu atau hari Ahad (bahasa Arab: الأحـد) adalah hari pertama dalam satu pekan. Kata minggu diambil dari bahasa PortugisDomingo. Dalam bahasa Melayu yang lebih awal, kata ini dieja sebagai Dominggu.[1] Baru sekitar akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, kata ini dieja sebagai Minggu.

Kata minggu (m dalam huruf kecil) berarti pekan, satuan waktu yang terdiri dari tujuh hari.

Nama lain hari Minggu adalah Ahad yang berarti satu dan diambil dari bahasa Arab. Nama lain lagi untuk hari ini adalah AdityaRadityaRedite atau Dite yang diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti matahari, mirip dengan pengertian dalam bahasa-bahasa di Eropa.

Hari Minggu adalah sebuah hari libur di negara-negara Barat maupun di beberapa negara di Bumi belahan Timur. Bagi umat Kristen, hari Minggu merupakan hari untuk beristirahat dan beribadah.

Dominus=Tuhan=Hari Tuhan (latin)dominggos (portugal), ketika menjajah indonesia sebentar sebelum belanda, menjadi minggos=minggu ke bahasa indonesia

Exodus 31:17 Hebrew Bible

ביני ובין בני ישראל אות הוא לעלם כי ששת ימים עשה יהוה את השמים ואת הארץ וביום השביעי שבת וינפש

“Antara saya dan anak-anak Israel adalah tanda selamanya bahwa dalam enam hari TUHAN menjadikan langit dan bumi dan pada hari ketujuh beristirahat dan segar”

Jadi Jika kita menyebut Hari Minggu bermakna Allah beristirahat pada Hari ke 7 untuk mencari kesegaran.Ayat di atas di ambil dari Kitab Keluaran 31 ayat 17 pada Alkitab Bahasa Hebrew

Berikut Jawaban Al-Qur’an,Bahwa Alloh Senantiasa Mengurusi Permintaan Makhluk-Nya dan Tidak Pernah Beristirahat :

QS:Ar Rahmaan : 29
“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan”

Saudaraku,Hati-Hatilah Menyebut Hari Minggu

Karena Alloh Subhaanahu wa Ta’ala tidak pernah beristirahat untuk kesegarannya dan kita beribadah dan berdoa bukan di Hari Minggu,Hari di mana Kata “mereka” Tuhan beristirahat dan Mendengarkan Doa mereka

Sumber : http://www.laskarislam.com/t2424-sejarah-penamaan-hari-minggu dengan beberapa koreksi di beberapa item

Referensi lain:
http://liputankita.com/artikel-liputankita/asal-usul-nama-hari-liputankita.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Minggu
http://irfananshory.blogspot.com/2010/12/mengapa-sepekan-tujuh-hari.html

Potret Keluarga Teladan dalam Al-Qur’an


House on a Prairie Wide

Mukadimah

Keluarga merupakan kelompok terkecil dalam sebuah tatanan masyarakat. Oleh karena masyarakat adalah himpunan dari beberapa keluarga maka baik buruknya sebuah masyarakat sangat bergantung kepada baik buruknya keluarga. Keluarga yang baik adalah awal dari masyarakat yang sejahtera. Sebaliknya, keluarga yang amburadul adalah pertanda hancurnya sebuah masyarakat. Individu-individu yang baik akan membentuk keluarga yang harmonis. Keluarga-keluarga yang harmonis akan mewujudkan masyarakat yang aman dan damai. Selanjutnya masyarakat-masyarakat yang damai akan mengantarkan kepada negara yang kokoh dan sejahtera. Maka, jika ingin mewujudkan negara yang kokoh dan sejahtera bangunlah masyarakat yang damai. Dan jika ingin menciptakan masyarakat yang damai binalah keluarga-keluarga yang baik dan harmonis.

Mengingat begitu pentingnya peranan keluarga dalam menciptakan masyarakat yang baik dan sejahtera maka Islam memberikan perhatian yang sangat besar pada pembinaan keluarga. Karena -seperti disinggung di atas- seandainya instrumen terpenting dalam masyarakat ini tidak dibina dengan baik dan benar, adalah mustahil mengharapkan terwujudnya sebuah tatanan masyarakat idaman.

Dalam Al-Qur’an banyak terdapat potret keluarga sepanjang zaman. Ada potret keluarga saleh dan ada juga potret keluarga celaka. Potret-potret keluarga tersebut meskipun terjadi pada masa dan lingkungan yang berbeda dengan masa saat ini, akan tetapi ia tetap mengandung banyak hikmah dan pelajaran berharga yang senantiasa kekal sepanjang zaman. Dalam tulisan sederhana ini, kita akan mengetengahkan beberapa potret keluarga teladan dalam Al-Qur’an untuk kemudian kita petik hikmah dan pelajaran-pelajaran berharganya.

Pertama: Keluarga Imran 

Satu-satunya surat dalam Al-Qur’an yang diberi nama dengan nama sebuah keluarga adalah surat Ali Imran (keluarga Imran). Tentunya bukan sebuah kebetulan nama keluarga ini dipilih menjadi salah satu nama surat terpanjang dalam Al-Qur’an. Di samping untuk menekankan pentingnya pembinaan keluarga, pemilihan nama ini juga mengandung banyak pelajaran yang dapat dipetik dari potret keluarga Imran.

Satu hal yang unik adalah bahwa profil Imran sendiri -yang namanya diabadikan menjadi nama surat ini- tidak pernah disinggung sama sekali. Yang banyak dibicarakan justru adalah istri Imran (imra`atu Imran) dan puterinya; Maryam. Hal ini seolah mengajarkan kita bahwa keberhasilan seorang kepala rumah tangga dalam membawa anggota keluarganya menjadi individu-individu yang saleh dan salehah tidak serta merta akan menjadikan profilnya dikenal luas dan kesohor. Boleh jadi dirinya tidak dikenal orang -kecuali hanya sekedar nama- tetapi rumah tangga yang dipimpinnya telah menjadi sebuah rumah tangga yang sukses dan teladan banyak orang. Hikmah ini juga mengingatkan kita pentingnya mensucikan niat dalam setiap amal perbuatan untuk semata-mata mengharap ridha Allah swt., bukan ingin dikenal sebagai seorang kepala tangga yang sukses, ingin dipuji dan sebagainya.

Niat sangat menentukan kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukan. Orang yang niatnya dalam beramal hanya untuk memperoleh sesuatu -baik berupa pujian, penghargaan, materi dan sebagainya- maka amalnya akan berhenti setelah ia merasa telah memperoleh apa yang ia angankan. Berbeda dengan orang yang beramal karena mengharap ridha Allah. Ia akan senantiasa beramal tanpa kenal lelah atau putus asa karena ia tidak tahu apakah ridha Allah yang ia harapkan itu sudah ia gapai atau belum.

Dikisahkan bahwa Imran dan istrinya sudah berusia lanjut. Akan tetapi keduanya belum juga dikaruniai seorang anak. Maka istri Imran bernazar, seandainya ia dikaruniai Allah seorang anak ia akan serahkan anaknya itu untuk menjadi pelayan rumah Allah (Baitul Maqdis). Nazar itu ia ikrarkan karena ia sangat berharap agar anak yang akan dikaruniakan Allah itu adalah laki-laki sehingga bisa menjadi khadim (pelayan) yang baik di Baitul Maqdis. Ternyata anak yang dilahirkannya adalah perempuan. Istri Imran tidak dapat berbuat apa-apa. Allah swt. telah menakdirkan anaknya adalah perempuan dan ia tetap wajib melaksanakan nazarnya. Ia tidak mengetahui bahwa anak perempuan yang dilahirkannya itu bukanlah anak biasa. Karena ia yang kelak akan menjadi ibu dari seorang nabi dan rasul pilihan Allah. Setelah itu, anak perempuan -yang kemudian diberi nama Maryam- tersebut diasuh dan dididik oleh Zakaria yang juga seorang Nabi dan Rasul, serta masih terhitung kerabat dekat Imran. Kisah ini dapat dilihat pada surat Ali Imran ayat 35-37.

Ada beberapa pelajaran berharga yang dapat dipetik dari potret Keluarga Imran ini:

Satu:

Apa yang menjadi keinginan besar dari istri Imran adalah bagaimana anaknya kelak menjadi abdi Allah seutuhnya. Bahkan, sebelum anaknya lahir ia telah bernazar bahwa anaknya akan diserahkan untuk menjadi pelayan di rumah Allah. Selayaknya, setiap orang tua muslim memiliki orientasi seperti halnya ibu Maryam ini. Ia tidak risau dengan nasib anaknya secara duniawi karena ia yakin bahwa setiap anak yang lahir sudah Allah jamin rezekinya. Apa yang menjadi buah pikirannya adalah bagaimana anaknya mendapatkan lingkungan yang baik untuk menjaga agama dan kehormatannya. Dengan orientasi seperti ini tidak mengherankan bila putrinya Maryam tumbuh menjadi seorang wanita yang paling suci di muka bumi. Lebih dari itu, ia dimuliakan oleh Allah dengan menjadi ibu dari seorang Nabi dan Rasul yang mulia; Isa bin Maryam melalui sebuah mukjizat yang luar biasa yaitu melahirkan anak tanpa seorang suami. Maka, orientasi orang tua tehadap anaknya adalah sesuatu yang sangat penting sebagaimana pentingnya membekali mereka dengan nilai-nilai keimanan sejak kecil.

Dua:

Ketabahan dan kesabaran istri Imran dalam menerima takdir Allah swt. ketika anak yang dilahirkannya ternyata perempuan dan bukan laki-laki sebagaimana yang ia harapkan. Kesabaran dan sikap tawakal menerima keputusan Allah ini ternyata menyimpan rahasia yang agung bahwa kelak anak perempuan tersebut akan menjadi ibu seorang Nabi dan Rasul. Alangkah perlunya sikap ini diteladani oleh setiap keluarga muslim, terutama yang akan dikaruniai seorang anak. Boleh jadi apa yang Allah takdirkan berbeda dengan apa yang diharapkan. Namun yang akan berlaku tetaplah takdir Allah, suka atau tidak suka. Maka, kewajiban seorang muslim saat itu adalah menerima segala takdir Allah itu dengan lapang dada dan suka cita, karena Allah tidak akan menakdirkan sesuatu kecuali itulah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Tiga:

Maryam kecil akhirnya diasuh oleh Zakaria yang masih famili dekat dengan Imran. Tentu saja asuhan dan didikan Zakaria -yang juga seorang Nabi dan Rasul ini- sangat berdampak positif bagi pertumbuhan diri dan karakter Maryam, sehingga ia tumbuh menjadi seorang gadis yang suci dan terjaga harga dirinya. Dikisahkan bahwa ketika malaikat Jibril menemuinya dalam rupa seorang lelaki untuk memberi kabar gembira kepadanya tentang ia akan dikaruniai seorang putra, Maryam menjadi sangat takut melihat sosok lelaki asing yang tiba-tiba hadir di hadapannya. Hal itu tak lain karena ia memang tidak pernah bergaul dengan laki-laki manapun yang bukan mahramnya. Inilah sifat iffah (menjaga diri) yang didapat Maryam dari hasil didikan Zakaria. Untuk itu, setiap orang tua muslim selayaknya memilih lingkungan dan para pendidik yang baik bagi anak-anaknya, apalagi di usia-usia sekolah yang akan sangat menentukan pembentukan karakter dan pribadinya di masa-masa akan datang.

Seandainya orang tua keliru dalam memilih lingkungan dan sarana pendidikan bagi anak-anaknya, maka kelak akan timbul penyesalan ketika melihat anak-anaknya jauh dari tuntunan etika dan akhlak yang mulia.

Kedua: Keluarga Nabi Ibrahim AS.

Barangkali dari sekian potret keluarga yang disinggung dalam Al-Qur’an, keluarga Nabi Ibrahimlah yang banyak mendapat sorotan. Bahkan dimulai sejak Ibrahim masih muda ketika ia dengan gagah berani menghancurkan berhala-berhala kaum musyrikin sampai ia dikaruniai anak di masa-masa senjanya. Keluarga Nabi Ibrahim as. termasuk keluarga pilihan di seluruh alam semesta. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 33: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran di seluruh alam semesta.” Akan tetapi, kita hanya akan mengambil beberapa episode saja dari rangkaian sejarah keluarga Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an.

Episode paling terkenal dari kisah Nabi Ibrahim adalah ketika Allah swt. mengaruniakan seorang putra kepadanya di saat usianya sudah sangat lanjut, sementara istrinya adalah seorang yang mandul. Namun Allah swt. Maha Kuasa untuk berbuat apa saja, sekalipun hal itu melanggar undang-undang alam (sunan kauniyah), karena toh alam itu sendiri Dia yang menciptakan.

Ibrahim yang sudah renta dan istrinya yang mandul akhirnya memperoleh seorang putra yang diberi nama Ismail. Penantian yang sekian lama membuat Ibrahim sangat mencintai anak semata wayangnya itu. Tapi, Allah swt. ingin menguji imannya melalui sebuah mimpi -yang bagi para nabi adalah wahyu-. Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Sebelum melaksanakan perintah itu, terjadi dialog yang sangat harmonis dan menyentuh hati antara anak dan bapak. Ternyata, sang anak dengan hati yang tegar siap menjalani semua kehendak Allah. Ia bersedia disembelih oleh ayahnya demi menjalankan perintah Allah swt. Ketegaran sang ayah untuk menyembelih sang anak dan kesabaran sang anak menjalani semua itu telah membuat mereka berhasil menempuh ujian yang maha berat tersebut. Allah swt. menebus Ismail dengan seekor domba, dan peristiwa bersejarah itu diabadikan dalam rangkaian ibadah korban pada hari Idul Adha. Kisah ini direkam dalam Al-Qur’an surat ash-Shaffaat ayat 100-107.

Ada beberapa pelajaran yang ingin kita petik dari penggalan kisah keluarga Nabi Ibrahim as. ini:

Satu:

Dialog yang baik dan harmonis antara seorang ayah dan anaknya. Meskipun Ibrahim meyakini bahwa perintah menyembelih anaknya itu mesti dilaksanakan, akan tetapi Ibrahim tetap melakukan dialog bersama putranya untuk meminta pendapatnya. Inilah barangkali yang mulai hilang dari keluarga muslim saat ini. Posisi anak dalam keluarga cenderung diabaikan dan dipandang sebelah mata. Anak seolah hanya berkewajiban untuk sekedar menuruti segala perintah orang tua tanpa memiliki hak bicara dan berpendapat sedikitpun. Akhirnya hubungan orang tua dengan anak ibarat hubungan atasan dengan bawahan. Hubungan seperti ini apabila dibiarkan terus berlanjut akan menghambat perkembangan karakter dan pribadi anak. Anak cenderung menjadi penakut dan tidak percaya diri. Atau kepatuhan yang ditampilkannya pada orang tua yang bersikap seperti ini hanyalah kepatuhan yang semu, sementara di dalam jiwanya ia menyimpan sikap penentangan dan pembangkangan yang luar biasa. Ia hanya mampu memendam sikap penentangan itu tanpa mampu melampiaskannya. Sikap penentangan ini akan menjadi bom waktu dalam jiwa anak yang suatu saat akan meledak jika situasi dan kondisinya mendukung.

Agar semua ini tidak terjadi, perlu dibangun komunikasi dan dialog yang harmonis antara orang tua dan anak. Kebiasaan orang tua yang selalu meminta pendapat anaknya -khususnya yang berhubungan langsung dengan dirinya- akan memberikan rasa percaya diri yang besar dalam jiwa anak. Ia akan merasa keberadaannya dalam keluarga dihargai dan diperhatikan. Selanjutnya, perasaan ini akan menumbuhkan sikap kreatif dan proaktif dalam jiwa anak di tengah-tengah masyarakat.

Dua:

Kesabaran Ismail dalam menjalankan perintah Allah untuk menyembelih dirinya. Adalah sesuatu yang teramat berat untuk menjalankan perintah seperti ini, apalagi dari seorang anak yang masih sangat belia. Tentu saja ini adalah hasil dari sebuah didikan yang luar biasa. Pendidikan yang mampu menumbuhkan sikap tawakal yang luar biasa dalam jiwa anak. Pendidikan yang membuat anak bersedia menjalankan apapun perintah Allah, sekalipun akan mengorbankan nyawanya. Namun hal itu tidaklah mustahil, karena dalam rentang sejarah Islam juga banyak anak-anak yang sangat dewasa dalam menjalankan perintah Allah. Diriwayatkan bahwa anak-anak para salafusshaleh sering berpesan kepada ayahnya sebelum ayahnya pergi mencari nafkah: “Ayah, carilah rezeki yang halal, karena sesungguhnya kami mampu bersabar dalam kelaparan tapi kami tidak akan mampu bertahan dalam siksa neraka.”  Tentunya sikap seperti ini hanya dapat dihasilkan melalui pendidikan yang serius sejak dini dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dalam jiwa anak sedari kecil.

Tiga:

Kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan perintah Allah akan selalu mendatangkan hasil terbaik. Ketika Ibrahim dan Ismail bersikap sabar dan tabah dalam menjalankan perintah Allah, meskipun itu sangat berat, Allah swt. menerima pengorbanan mereka dan menjadikan keluarga mereka sebagai keluarga pilihan di alam semesta. Mereka telah lulus menjalani sebuah ujian yang sangat berat. Kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan perintah Allah itu hanya dapat diperoleh dengan keimanan yang kuat dan keyakinan yang kokoh bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik meskipun bertentangan dengan hawa nafsu manusiawi.

Empat:

Cinta pada anak adalah ujian. Oleh karena itu Allah swt. berfirman bahwa anak-anak dan istri bisa menjadi musuh bagi seseorang jika semua itu akan melalaikannya dari mengingat Allah swt. (at-Taghaabun:14). Bagaimanapun cintanya orang tua kepada anaknya, hal itu tidak boleh menyamai apalagi melebihi cinta mereka kepada Allah. Ketika istri, anak-anak dan keluarga lebih dicintai daripada Allah, saat itulah mereka akan berubah menjadi musuh di akhirat kelak. Bahkan cinta kepada anak-anak tidak boleh melebihi cinta kepada Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu sehingga aku lebih dicintainya dari anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya.”

Ketiga: Keluarga Luqman

Ulama berbeda pendapat apakah Luqman seorang Nabi atau hanya seorang yang bijak bestari. Pendapat terkuat adalah bahwa Luqman bukanlah seorang Nabi melainkan seorang ahli hikmah (hakiim). Namanya diabadikan menjadi nama salah satusurat dalam Al-Qur’an. Sebagian besar ayat-ayat dalam surat Luqman bercerita tentang nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya. Pelajaran berharga yang dapat kita ambil di sini adalah seyogyanya pendidikan dasar pertama yang diterima oleh anak adalah datang dari orang tuanya sendiri. Orang tualah yang paling bertanggung jawab untuk mendidik dan mengarahkan anaknya ke jalan yang baik. Adapun sekolah hanyalah sebagai sarana pendukung dalam proses pendidikan anak secara formal. Jadi, selayaknya orang tua selalu memberikan nasehat-nasehat berharga kepada anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Karena di masa-masa itu, ingatan mereka masih sangat kuat untuk merekam apa saja yang disampaikan kepada mereka. Dalam usia-usia tersebut, mereka ibarat kertas putih yang bisa ditulis dengan apa saja. Alangkah baiknya bila orang tua memanfaatkan masa-masa itu untuk membentuk karakter dan pribadi anak-anaknya dalam bingkai keimanan dan akhlak yang mulia.

Ada beberapa nasehat yang diberikan Luqman kepada anaknya seperti yang tercantum dalam surat Luqman ayat 13 – 19:

Satu:

Jangan mempersekutukan Allah. Ini merupakan pelajaran aqidah yang paling mendasar yang mesti diberikan kepada anak sejak dini. Jika iman dan aqidah sudah tertanam dengan kuat dalam dirinya, niscaya ia akan tumbuh menjadi anak yang konsisten, penuh tanggung jawab dan tegar menghadapi segala cobaan hidup.

Dua

Berbakti pada kedua orang tua. Orang tua sebagai faktor lahirnya anak ke muka bumi adalah orang yang paling berhak untuk diberikan bakti oleh anak-anak. Begitu pentingnya berbakti kepada orang tua sampai-sampai dalam sebuah haditsnya Rasulullah saw. bersabda: “Keridhaan Allah terletak di atas keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah terletak di atas kemurkaan orang tua.”

Tiga:

Mendirikan shalat dan melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar. Pembiasaan ibadah kepada anak-anak sejak kecil sangat berguna untuk memberi kesadaran kepada mereka bahwa keberadaan mereka di dunia ini semata-mata hanyalah untuk mengabdi kepada Allah swt. Dengan demikian ia akan hidup dengan sebuah misi dan target yang jelas. Misinya adalah berubudiyah kepada Allah, sementara targetnya adalah mencapai ridha Allah.

Hal ini sekaligus juga akan menumbuhkan dalam diri anak keberanian memikul sebuah tugas dan tanggung jawab serta mampu bersikap disiplin. Sebab, semua jenis ibadah yang diajarkan oleh Islam mengajarkan kita untuk berani memikul amanah dan disiplin dalam menjalankannya. Di samping itu, yang dituntut dalam melaksanakan sebuah ibadah bukan sekedar lepas kewajiban, melainkan yang terpenting adalah pembentukan pribadi dan karakter yang baik yang tampak nyata dalam aktivitas sehari-hari sebagai buah yang positif dari rutinitas ibadah yang dikerjakan.

Empat:

Jangan berlaku sombong. Nasehat ini sangat berharga bagi anak-anak sebagai bekal dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat. Jika ia ingin diterima oleh masyarakat, ia mesti menjauhi segala pantangan pergaulan dalam masyarakat. Karena, jika ia bersikap sombong maka secara tidak langsung sesungguhnya ia telah merendahkan orang lain. Dan siapapun orangnya sudah pasti memiliki harga diri dan tidak akan rela bila dipandang enteng dan diremehkan. Maka, modal utama pergaulan dalam masyarakat adalah sikap tawadhu’ (rendah hati) dan tidak menganggap diri lebih dari orang lain.

Keempat: Keluarga Nabi Ya’qub AS.

Nabi Ya’qub adalah putra Nabi Ishak dan cucu Nabi Ibrahim. Ia mempunyai putra yang juga seorang Nabi yaitu Yusuf as., sehingga Nabi Yusuf digelari dengan al-Karim ibnu al-Karim ibnu al-Karim (orang yang mulia putra dari orang yang mulia dan cucu dari orang yang mulia).

Kisah Nabi Ya’qub as. bersama anak-anaknya dimuat dalam surat Yusuf secara sempurna. Kisah tersebut dijuluki oleh Allah sebagai ahsanul qashash (kisah terbaik). Di samping jalan ceritanya yang menarik, kisah ini juga mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat berharga. Kisah keluarga Ya’qub ini diawali dengan mimpi yang dialami oleh Yusuf kecil. Ia melihat sebelas bintang, matahari dan bulan sujud kepadanya. Yusuf menceritakan mimpinya itu kepada ayahnya. Nabi Ya’qub mengetahui bahwa anaknya ini kelak akan menjadi orang besar dan terpandang. Oleh karena itu, Nabi Ya’qub meminta anaknya untuk merahasiakan mimpinya itu dari saudara-saudaranya yang lain.

Sejak saat itu, kasih sayang dan perhatian Nabi Ya’qub kepada anaknya Yusuf semakin bertambah. Hal itu kemudian membuat anak-anak Nabi Ya’qub lainnya merasa iri pada Yusuf. Akhirnya, setelah mengelabui sang ayah, mereka melemparkan Yusuf ke dalam sumur tua. Mereka pulang dengan membawa baju Yusuf yang telah dilumuri darah kambing, lalu mengadukan pada ayah mereka bahwa Yusuf telah dimakan serigala.

Yusuf kemudian dipungut oleh kafilah dagang yang sedang menuju negeri Mesir. Yusuf dijual sebagai seorang budak. Ia dibeli oleh seorang pejabat istana kerajaan Mesir. Setelah melalui berbagai cobaan (seperti digoda oleh istri tuannya yang membuatnya dijebloskan ke penjara karena menolak rayuan maut itu) Yusuf akhirnya menjadi tokoh berpengaruh di Mesir. Ia mendapatkan posisi penting dalam mendistribusikan kebutuhan pokok pada segenap warga selama musim paceklik melanda. Ternyata paceklik juga menimpa keluarga Nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub menyuruh anak-anaknya meminta bantuan kepada penguasa Mesir yang sesungguhnya adalah putranya sendiri. Akhirnya setelah beberapa kali pertemuan, Nabi Yusuf baru memberitahukan kepada saudara-saudaranya yang datang meminta bantuan pangan itu bahwa dialah Yusuf yang dulu mereka lemparkan ke dalam sumur tua. Tak berapa lama setelah itu, Nabi Ya’qub berjumpa kembali dengan putranya tercinta dan keluarga Nabi Ya’qub diboyong ke Mesir untuk hidup bersama Nabi Yusuf yang telah menjadi seorang pembesar dan tokoh berpengaruh di negeri itu.

Ada beberapa pelajaran yang ingin kita petik dari kisah keluarga Nabi Ya’qub ini:

Satu:

Adalah sesuatu yang lumrah dan manusiawi bila hati seorang ayah atau ibu lebih condong kepada salah seorang anaknya dibanding yang lain. Rasa sayang yang lebih itu bisa jadi karena anak tersebut lebih patuh, lebih cerdas, lebih santun dan sebagainya. Hal itu tidak menjadi dosa bagi orang tua. Karena Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa tidak seorangpun yang mampu berbuat adil secara sempurna (an-Nisa`: 129). Yang dituntut oleh Islam dari orang tua adalah adil secara lahir. Artinya, meskipun secara batin dan di dalam hatinya ia lebih menyukai dan menyayangi salah seorang di antara anak-anaknya, akan tetapi dalam hal-hal yang tampak nyata ia wajib berlaku adil, seperti dalam mendidik, memberi nafkah, mencukupi segala kebutuhannya dan lain sebagainya. Orang tua akan berdosa seandainya rasa sayangnya yang berlebih pada beberapa orang anaknya membuatnya membeda-bedakan mereka dalam hak-hak secara lahir seperti pendidikan yang layak, uang belanja yang cukup, melengkapi kebutuhan sehati-hari dan sebagainya. Pada intinya, orang tua harus pandai dan bijak dalam membagi perhatiannya terhadap anak-anaknya sehingga tidak menimbulkan kecemburuan yang negatif dalam hati sebagian mereka.

Dua:

Rasa cemburu yang berlebihan dan tak dapat dikendalikan bisa menjadi faktor yang sangat berbahaya dalam menghancurkan sebuah keluarga. Rasa cemburu ini dapat menghinggapi siapa saja. Suami cemburu pada istri atau sebaliknya, kakak cemburu pada adik atau sebaliknya dan seterusnya. Seorang yang merasa cemburu cenderung akan berusaha melampiaskan perasaannya dengan berbagai cara meskipun akan membahayakan jiwa saudaranya sendiri. Dalam kisah keluarga Nabi Ya’qub di atas, rasa cemburu telah menjerumuskan saudara-saudara Yusuf ke dalam lingkaran dosa yang panjang; mereka tega mencelakakan saudara sendiri, melanggar janji mereka semula untuk menjaga Nabi Yusuf, berbohong kepada ayah mereka dengan mengatakan bahwa Yusuf diterkam serigala dan seterusnya. Seorang ayah mesti menyikapi perasaan cemburu diantara anak-anaknya dengan baik dan penuh bijaksana. Sikap yang dipilih oleh Nabi Ya’qub menghadapi anak-anaknya yang dihinggapi perasaan cemburu yang berlebihan itu adalah bersabar. Beliau hanya mengatakan: fashabrun jamiil (maka sabarlah yang lebih baik). Seandainya Nabi Ya’qub mengusir anak-anaknya yang telah menyia-nyiakan putra kesayangannya, tentu hal itu bukan sebuah solusi bijak dalam mendidik mereka, karena akhirnya mereka akan semakin lari atau bahkan membenci ayah mereka sendiri.

Kelima: Keluarga Nabi Daud AS.

Awalnya, Nabi Daud adalah salah seorang tentara dalam pasukan yang dipimpin oleh Thalut. Karena keberhasilan Daud membunuh Jalut (al-Baqarah: 251) bintangnya mulai berkibar dan akhirnya ia menjadi seorang raja besar Bani Israil. Putranya, Sulaiman juga seorang Nabi dan Rasul yang kelak mewarisi kekuasaan ayahnya. Jadi, bisa dibilang keluarga Nabi Daud adalah potret keluarga elit kekuasaan yang taat kepada Allah. Nabi Daud selalu menyuruh keluarganya untuk senantiasa mengerjakan shalat dan berzikir. Dikisahkan bahwa Nabi Daud memiliki waktu-waktu tertentu dimana ia bermunajat dan berzikir kepada Allah di mihrabnya. Di saat seperti itu, tak seorangpun yang boleh dan berani mengganggu beliau. Ternyata kekuasaan besar yang diberikan kepadanya sama sekali tidak menghalanginya untuk mengkhususkan sebagian waktunya tenggelam dalam lautan zikir kepada Allah.

Selain nuansa ibadah dan zikir, keluarga Nabi Daud juga kental dengan nuansa ilmu pengetahuan. Sudah jamak diketahui bahwa Nabi Daud adalah manusia pertama yang mampu mengolah besi dengan tangannya untuk berbagai keperluan terutama persenjataan perang. Di samping itu, Nabi Daud juga dikenal sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana yang mampu memecahkan berbagai permasalahan yang paling rumit sekalipun dengan baik. Tentunya semua itu membutuhkan kecerdasan dan ilmu pengetahuan. Sifat ini kemudian diwarisi oleh putranya, yaitu Nabi Sulaiman. Bahkan dalam beberapa kasus, Allah swt. memberikan pemahaman yang lebih kepada Nabi Sulaiman, sehingga berkat ilmu dan kecerdasannya kasus-kasus tersebut dapat diselesaikan dengan penuh keadilan. Jadi, sebelum mereka berkuasa dengan kekuatan fisik dan senjata, mereka telah berkuasa lebih dahulu dengan kekuatan ilmu dan kecerdasan.

Keenam: Keluarga Nabi Syu’aib AS. Bersama Kedua Puterinya

Setelah lari dari Mesir untuk menghindari pengejaran tentara Fir’aun, Nabi Musa as. tiba di sebuah negeri yang bernama Madyan. Di sana ia melihat kerumunan manusia yang sedang berdesak-desakan untuk mengambil air dari sebuah sumur. Tak jauh dari kerumunan itu tampak dua orang gadis sedang berdiri menunggu hingga kerumunan itu bubar. Musa mendekati kedua gadis tersebut dan bertanya,“Kenapa dengan kalian?” Keduanya menjawab, “Kami tidak bisa mengambil air sampai mereka semua selesai, sementara ayah kami sudah sangat tua”. Tanpa pikir panjang lagi, Nabi Musa segera membantu kedua orang gadis itu untuk mengambil air.

Tidak berapa lama setelah itu, Nabi Musa diundang untuk datang oleh ayah kedua gadis itu yang tak lain adalah Nabi Syu’aib as.  Dalam surat al-Qashash ayat 25 disebutkan bahwa salah seorang dari kedua gadis yang disuruh oleh ayahnya untuk mengundang Nabi Musa itu datang sambil malu-malu. Ia tidak termasuk tipe gadis salfa’ (gadis yang terlalu berani pada laki-laki). Rasa malu gadis itu dibalas oleh Nabi Musa dengan penuh bijak dan berwibawa ketika ia meminta gadis itu untuk berjalan di belakangnya untuk menjaga pandangan dan bisikan hati dari hal-hal yang dihembuskan oleh setan dan hawa nafsu.Muru`ah (harga diri) seorang laki-laki muslimlah yang telah mendorong Nabi Musa untuk menjaga hati dan juga ‘iffah (kesucian diri) gadis itu.

Ternyata ayah sang gadis bermaksud menawarkan Nabi Musa untuk menikahi salah seorang puterinya. Tawaran itu pun dibalas oleh Nabi Musa dengan penuh mulia yaitu pengabdian selama lebih kurang delapan tahun sebagai mahar dari pernikahan tersebut.

Dari petikan kisah ini ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari Keluarga Nabi Syu’aib AS.:

Satu:

Nabi Syu’aib as. telah mengambil sebuah keputusan yang penuh bijaksana dan berani ketika ia ingin menikahkan salah seorang puterinya dengan seorang pemuda asing yang tidak memiliki apa-apa selain agama. Inilah faktor utama yang mendorong bagi Nabi Syu’aib untuk mengambil Nabi Musa sebagai menantu. Faktor ini pulalah yang seharusnya menjadi pertimbangan utama bagi setiap orang tua muslim dalam mencarikan jodoh untuk anaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan,“Apabila datang kepadamu pemuda yang kamu sukai agamanya maka nikahkanlah ia (dengan puterimu), karena kalau tidak akan timbullah fitnah”. Ketika orang tua tidak lagi memperdulikan faktor agama, tapi lebih melihat kepada status sosial maka saat itu akan timbullah bencana dan malapetaka. Hubungan suami istri adalah hubungan sakral yang akan terjalin untuk selama-lamanya. Seandainya orang tua tidak pandai-pandai memilih calon pasangan untuk anak-anaknya maka sulit untuk mengharapkan mereka akan memperoleh kehidupan yang bahagia, damai dan harmonis dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Faktor lain yang juga menjadi pertimbangan bagi Nabi Syu’aib untuk menikahkan puterinya dengan Nabi Musa adalah bahwa ternyata Nabi Musa adalah seorang pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Hal ini tampak dari bantuan yang diberikannya pada kedua gadis puteri Nabi Syu’aib itu dalam mengambil air dan juga mahar yang diberikannya dalam bentuk pengabdian kerja pada Nabi Syu’aib selama delapan tahun. Maka, ibadah ritual yang rajin tentu saja tidak cukup bila tidak diikuti okeh aplikasi nyata tehadap nilai-nilai agung yang terkandung dalam ibadah itu sendiri.

Kedua:

Bukanlah sebuah aib ketika orang tua menawarkan puterinya kepada seorang pemuda yang ia kagumi pribadi dan agamanya. Bahkan itu sudah menjadi hal yang lumrah di masa Rasulullah saw. dan salafusshaleh. Diriwayatkan bahwa Umar r.a. menawarkan puterinya, Hafshah kepada Abu Bakar, tapi Abu Bakar tidak memberikan jawaban. Kemudian Umar menawarkannya kepada Utsman, tetapi Utsman mohon maaf tidak bisa menerima tawaran tersebut. Umar sempat merasa kurang enak memperoleh reaksi yang demikian dari kedua sahabatnya tersebut. Ternyata di balik usaha Umar untuk mencarikan suami yang saleh bagi puterinya, Allah swt. telah menakdirkan seorang suami terbaik dan paling ideal untuk putrinya yaitu Rasulullah saw.

Di masa itu bahkan ada seorang wanita yang dengan berani menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh Rasulullah saw. Meskipun Rasulullah tidak jadi menikahinya tapi wanita itu telah mengajarkan makna kesucian diri yang sesungguhnya. Adalah lebih suci dan mulia ketika seorang wanita menawarkan dirinya kepada seorang yang saleh dan bertakwa untuk dinikahi dari pada menjalin hubungan yang tidak syar’i dengan seorang yang –sudah tentu- diragukan kualitas keagamaannya. Tak ada kata malu untuk menjalankan syariat Allah dan mencari ridha-Nya meskipun dalam pandangan manusia hal itu masih menjadi sesuatu yang tabu. Karena pada hakikatnya, baik atau buruknya sesuatu itu diukur dari kacamata syariat. Segala sesuatu yang diperintahkan dalam syariat adalah baik meskipun dalam pandangan manusia hal itu masih aneh dan janggal. Dan setiap yang dilarang syariat adalah buruk meskipun manusia sudah menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Hati nurani manusia sering ditutupi oleh nafsu dan syahwat sehingga ia sulit melihat cahaya kebenaran dalam wujud yang sesungguhnya.

Ketiga:

Didikan yang baik dari orang tua dapat menumbuhkan karakter yang baik dan kecerdasan pada diri anak. Hasil didikan Nabi Syu’aib terhadap puterinya tampak pada sifat malu dalam diri sang puteri saat ia disuruh ayahnya untuk mengundang Nabi Musa. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa ketika pergi memanggil Nabi Musa ia mengenakan cadar untuk menutupi wajah dan menjaga ‘iffahnya. Di samping pemalu, puteri Nabi Syu’aib juga seorang yang cerdas. Terbukti dari saran yang disampaikannya kepada ayahnya untuk mengupah Nabi Musa as. Ia berkata: “Sesungguhnya orang terbaik yang ayah upah adalah laki-laki yang kuat dan dapat dipercaya.” Perkataan puteri Nabi Syu’aib ini mengajarkan kita bahwa kriteria utama yang mesti diperhatikan dalam memilih tenaga kerja dalam bidang apa saja adalah: al-qawiyy (punya kemampuan atau skill) dan al-amiin (dapat dipercaya).

Khatimah (Penutup)

Demikianlah sekelumit potret keluarga teladan dalam Al-Qur’an yang bisa penulis ketengahkan. Tentunya masih banyak mutiara-mutiara hikmah berharga dari potret keluarga yang bertaburan dalam Al-Qur’an yang dapat dijadikan pedoman oleh setiap keluarga muslim. Langkah awal yang paling baik untuk mewujudkan sebuah keluarga muslim ideal adalah dengan memahami kondisi psikologi, kelebihan dan kekurangan keluarga masing-masing. Pemahaman yang baik terhadap keadaan dan psikologi keluarga akan memudahkan kita untuk merancang langkah-langkah yang hendak ditempuh dalam mencapai keluarga muslim sejati. Jadikanlah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. sebagai pedoman dan sumber inspirasi utama. Karena tidak adamanhaj (konsep) hidup yang lebih sempurna selain yang telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Wallahua’lam bishshawab.*


Disarikan dari buku Jurnal Al Insan Jilid 3

Penerbit : Kelompok Gema Insani

Penulis : Yendri Junaidi, Lc.

Sumber :  http://groups.yahoo.com/group/buku-islam/message/3646

KETIKA ….


Bissmillahirrahmanirrahiimm…

♥♥ KETIKA AKAN MENIKAH janganlah mencari istri,tapi carilah ibu bagi anak-anak kita,janganlah mencari suami ,tapi carilah ayah bagi anak-anak kita
.
♥♥ KETIKA AKAN MELAMAR Anda bukan sedang meminta kepada orang tua /wali si gadis,tetapi meminta kepada Alloh melalui orang tua /wali si gadis.

♥♥ KETIKA AKAD NIKAH Anda berdua bukan menikah di hadapan penghulu,tetapi menikah dihadapan Alloh.

♥♥ KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendoakan anda ,karena anda harus berfikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila anda berfikir untuk BERCERAI karena menyia-nyiakan doa mereka.

♥♥ SEJAK MALAM PERTAMA Bersyukur dan bersabarlah,Anda adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.

♥♥ SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga,tapi juga melaui semak belukar yang penuh onak dan duri.

♥♥ KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA 0LENG Jangan saling berlepas tangan,tapi sebaliknya erat berpegang tangan.

♥♥ KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK Cintailah isteri atau suami anda 100%.

♥♥ KETIKA MEMILIKI ANAK Jangan bagi cinta anda kepada suami/istri dan anak anda,tetapi cintailah istri atau suami anda 100% dan cintailah anak-anak anda masing-masing 100%.

♥♥ KETIKA EK0N0MI KELUARGA BELUM MEMBAIK Yakinlah bahwa pintu rezeki terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan istri.

♥♥ KETIKA EK0N0MI MEBAIK Jangan pernah berfikir bahwa orang akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita.

♥♥ KETIKA MENDIDIK ANAK Boleh bermanja-manja kepada istri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila istri membutuhkan pertolongan anda.

♥♥ KETIKA ANDA ADALAH SUAMI Boleh bermanja-manja kepada istri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila istri membutuhkan pertolongan anda.

♥♥ KETIKA ANDA ADALAH ISTRI Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut,tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak,karena orang tua yang baik adalah orang tua jujur kepada anak.

♥♥ KETIKA ANAK BERMASALAH Yakinlah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerja sama denagn orang tua,yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

♥♥ KETIKA ADA PIL Jangan diminum,cukuplah suami sebagai obat
.
♥♥ KETIKA ADA WIL Jangan dituruti,cukupilah istri sebagai pelabuhan.

♥♥ KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA Pilihlah potrt keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.

♥♥ KETIKA INGIN LANGGENG DAN HARMONIS Gunakanlah formula 7K 1Ketaqwaan 2Kasih sayang 3Kesetiaan 4Komunikasi dialog 5Keterbukaan 6Kejujuran 7Kesabaran.

*Semoga diriku dirimu dan diri kita semua termasuk Hamba yang disayang olehNya…Aaamiiin yaa Mujiib yaa Rabbala’allamiiin…

Semoga bermanfaat…
Salam Ukhuwah Fillah ya Akhi wa Ukhti fillah.

(dari berbagai sumber)

Akhi.. kutunggu pinanganmu


Akhi..

Jangan engkau puja puji kami bila pujianmu hanyalah janji-janji yang
tak menentu. Hanya membuatku terlena dan terbuai hingga kami lupa
bahwa kita sedang bermaksiat. Kau puji diriku,tapi kau hanya ingin
membuatku tersenyum dan makin terbuai rayuanmu. Tidak.. tidak
akhi,kami ingin kau puji setelah kau halal bagiku. Maka datangilah
waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Tak akan kami langgar iffah ku dengan ajakan khalwat dari mu.

Engkaupun sebenarnya tau,hal itu hanya akan menimbulkan badai kelabu
yang membuat kita tak berdaya karna pihak ketiga yang tak lain syetan
yang ada di dekat kita. Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu
pinanganmu..

Akhi..

Jagalah sikapmu pada kami,maka akankami jaga sikapku padamu,kami lemah
akan sanjunganmu. Kecintaan ini ingin kami persembahkan kelak untuk
suami,cinta nan kasih ini yang akan kami tuai untuk mencari ke ridhoan
suami kelak. Jadi bagaimana mungkin kami mencinta pada hal yang tidak
halal bagi kami, tentu Allah tak akan pernah ridho pada kami. Maka
datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Jilbabku untuk melindungi kehormatan kami,santun kami untuk menjaga
iffah . Jangan kau lenakan kami agar kami lepas kehormatan di
hadapanmu sebelum engkau halal bagi kami. kami ingin engkau ikut
menjaga kehormatan kami dengan menjaga kami,bukan malah membawa pada
kenistaan. Agar kau mampu menjaga kami secara utuh,Maka datangilah
waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

kami memang tak sesempurna Aisyah dalam kecerdasan nya ataupun Fatimah
dengan kelembutannya. Tapi kamiakan berusaha cerdas layaknya Aisyah
dalam naunganmu dan kami akan berusaha selembut Fatimah dalam
menenangkanmu.Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

Akhi..

Kau memang tak sehebat Ali ataupun sekuat Umar,tapi kau akan menjadi
hebat layaknya Ali ketika kau menjaga kami dalam kelemahan kami dan
kau akan sekuat Umar agar kami tidak selalu menjadi tulang yang
bengkok. Kami butuh imam yang bisa menjaga ke imanan,bukan yang mebawa
kami pada jurang maksiat. Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu
pinanganmu..

Sungguh,kami memang tidak mampu menahan kala kami jatuh hati,tapi kami
tak akan mengobral pesona kami hanya karna cinta yang menuntut nafsu
pada keramahan syetan pada kami. Bukanlah jatuh cinta bila kau ajak
kami pada kemaksiatan. Bila kau memang jatuh cinta pada kami,jangan
kau bebankan deritamu pada hati yang akan memuntutmu untuk berbuat
nista. Ijinkan kami menjaga hatimu,agar kita bisa menjelang bersama
Jannah Nya.Maka datangilah waliku akhi..ku tunggu pinanganmu..

“Wahai jika engkau memiliki cinta

Dan telah terdorong dengan kerinduan

Maka anggaplah jarak perjalanan itu dekat

Karna kecintaan dan kerelaanmu pada penyeru

Ketika mereka menyeru..!!

Maka katakanlah,kami penuhi panggilanmu.

Seribu kali dengan sempurna

Janganlah kau berpaling

Hanya karna melihat gerimis

Jika engkau melihatnya “( Fii Zilalil Mahabbah )”

(dari berbagai sumber)

Untuk Apa Menikah…????


Untuk Apa Menikah…????

Oleh Mukti Amini (eramuslim.com)

pernikahan adalah simbiosis mutualisma dua insan berbeda tuk merenda bahagia

pernikahan adalah sebuah bahtera berlayar di samudera luas menuju pulau cinta-Nya

pernikahan bukanlah impian bunga semusim
semata memuja romantisme dan keindahan
melupakan perjuangan

pernikahan adalah sebuah terminal
melewati jalan panjang menuju rumah keabadian

Puisi di atas aku tulis sehari setelah aku dikhitbah calon suami, 11 Oktober 1998, atau kurang sebulan dari pernikahan kami. Puisi yang lahir dari kegelisahan dan kegamangan, akankah setelah menikah nanti aku akan tetap isiqomah dalam jalan perjuangan yang sejak lama ditekuni? Atau justru tergerus dengan kesibukan rumah tangga tiada henti seperti yang kulihat pada beberapa ummahat di sekitarku, waktu itu?

Puisi yang kutulis untuk terus memotivasi diri, agar setelah menikah pun semangat berjuang dan berdakwah tetap membara. Puisi itu kutulis di halaman pertama buku Fauzil Azhim yang belum lama kubeli waktu itu, Kupinang Engkau dengan Hamdalah. Semata agar aku teringat dan teringat terus akan makna asasi pernikahan. Apalagi saat-saat menjelang pernikahan, masa yang rawan dan sangat disukai syetan, mengelabui hati dari cara yang paling canggih sampai amatiran. Huh!

Kini, setelah hampir 13 tahun berlalu, sungguh malu hati membaca puisi sendiri. Kemana semangat menggelora untuk terus berdakwah itu, kini? Rasanya waktu 24 jam lebih banyak untuk hal-hal rutinitas tiada henti. Robotic. Meski itu juga diniatkan untuk dakwah. Tapi rasanya.. banyak target dakwah secara pribadi yang terlepas.

Bukan berarti aku menolak tugas utama sebagai istri dan ibu rumah tangga. Justru itu hal lain dari dakwah juga, tarbiyah ‘ailiyah. Tapi, apakah sudah merasa cukup puas asal anak2 dan suami sehat sejahtera tak kurang suatu apa? Seperti kata salah seorang sahabat:

Jika kita mencukupkan diri untuk kebahagiaan dalam keluarga kita saja, tanpa terpanggil untuk membantu orang2 lain di sekitar mencapai bahagianya dunia akherat (atau berdakwah), maka tunggulah! Suatu hari nanti, keluarga kita yang akan digerogoti oleh orang2 yang tidak tahu bagaimana caranya dia mencapai bahagia.Mungkin suami kita yang akan digoda oleh perempuan2 yang tak tahu bagaimana menjaga cinta, atau anak3 perempuan kita yg ternoda oleh laki2 yang tidak tahu menjaga martabatnya…

Lalu, saat membaca kutipan Syaikh Hasan Al Bana, dalam Hadits Tsulasa, halaman 629…

“Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban dakwah…”

Kembali aku malu hati.

Maka, Alhamdulillah aku diberikan suami yang penuh pengertian dan mampu saling bersinergi. Meski tentu belum ideal, tapi setidaknya kami berusaha. Meski dulu awalnya tak cinta, mengapa mesti resah? Bukankah Love is Verb, kata Stephen Covey? Cinta itu kata kerja aktif yang bisa diupayakan. Yang penting standar minimal sebagai seorang calon suami (dan istri) terpenuhi. Bukankah jika dia beriman dan berakhlaq baik, maka itulah modal utamanya?

Ketika engkau mencintaiku, engkau menghormatiku.
Dan ketika engkau tak mencintaiku, engkau tidak mendzalimiku.
(Dr. Ramdhan Hafidz)

Justru kurasa, yang peru ditekankan dalam agenda ta’aruf, selain masalah kepribadian dan tanggung jawab maliyah berikut serialnya, adalah prototipe seperti apa yang dicita-citakan nanti pasca menikah. Mau dibawa ke mana keluarga ini sesungguhnya?
(Bagi yang belum nikah, ingat2 ya, itu tuh salah satu agenda taarufnya..)

Dan, saatnya cita-cita tetap berdakwah setelah menikah itu diejawantahkan dan dibuktikan! Memang tak mudah. Sering kali tersandung-sandung dan menguras air mata. Awalnya jelas tambal sulam, karena menyatukan ritme 2 orang yang sama sekali berbeda dalam pembiasaan sekian puluh tahun, tentu saja butuh usaha extra dibarengi hati legawa. Mencoba dan terus mencoba. Berkomunikasi dan bersinergi, saling membaca hati, saling mengingatkan, tak marah saat dikritisi. Sebisanya. Prinsipnya asal sama2 paham bahwa tujuannya sama2 mulia.

Hmm, jadi ingat juga ucapan salah seorang sahabat, “Jangan bayangkan kalau menikah dengan ikhwah itu terus jadi serba indah dalam beribadah. Bisa Qiyamul lail berjamaah setiap waktu, bisa saling menyimak hafalan Quran…. Halah, boro2 dah! Kalau tidak ada azzam yang kuat, haduuuh, subuh pun bisa sama2 kesiangan bangun!”

Jadi, memang quwwatul azam yang diperlukan. Semoga dengan quwwatul azam salah satu pasangan, jika yang lainnya sedang lemah akan segera terkuatkan. Syukur2 kalau quwwatul azamnya sama2 kuat. Itu yang diharapkan.

Dilanjutkan dengan ibda’ binafsika, mulai dari dirimu sendiri. Tak berhenti sekedar wacana, tapi terwujud dalam amal nyata yang akan ditiru pasangannya.

Maka, sungguh Alhamdulillah, saat tak lama kemudian, aku merasa begitu didukung dalam tiap gerak langkahku, sekaligus mendapatkan contoh yang baik dari seorang qawwam. Suami yang bersedia mengantar kemana pun aku pergi selagi bisa dan ada waktu. Suami yang tidak canggung bermain dengan anak2 saat dengan terpaksa kutinggalkan mereka sementara waktu untuk mengisi kajian atau rapat organisasi. Suami yang jarang bicara, tapi memberi banyak contoh dalam perilaku sehari-hari. Aku yang ingin rehat barang sebentar, melihat dia tilawah jadi ikut tergerak tilawah. Aku yang kadang ingin mengungkapkan emosi dengan nada agak tinggi, melihatnya senyum2 jadi gak sampai hati.
(jazakallahu ya maas, telah menjadi Qawwam dan membimbingku)

Ya! Tak cukup mencita-citakan terbentuknya keluarga yang samara, sakinah mawaddah wa rahmah, Tetapi, DASAMARA. Keluarga DA-kwah yang samara. Dakwahnya dulu diperjuangkan, maka samara itu yang akan mengikuti sebagai imbalannya. Bismillah. Mari melangkah 🙂


Up ↑