10704068_10204787831280026_7147717376191647030_n

 

Skenario Allah jauuh lebih indah!
Ust Muhammad Fatih Karim di awal kajian bercerita tentang suatu cerita nyata di Kajian Malam Ahad Ar-Rahman Pre Wedding Academy sabtu lalu, 13 September 2014.
Beliau bercerita tentang seseorang pemuda yang sedang bersiap-siap untuk melangsungkan pernikahannya. Saat itu segalanya sudah disiap-siapkan. Gedung sudah dibayar setengahnya, undangan sudah mulai disebarkan, tinggal catering dan beberapa hal kecil yang belum dibayarkan. Ternyata menjelang acara pernikahan yang sudah dekat—batal.
Ternyata hal itu disebabkan satu malam saat sang Ikhwan berkunjung ke rumah sang akhwat. Di saat itulah sang akhwat mengakui sesuatu hal.
“Malam ini mau ngobrolin apa lagi buat persiapan?” tanya sang ikhwan. Sementara ayah akhwat tersebut berada di ruang tamu, dan ibundanya berada di dekat ruang makan.
“Malam ini mau cerita aja.” Kata sang akhwat tersebut berkaca-kaca matanya.
“Oh, silakan cerita saja.” Sang Ikhwan mempersilakan sang Akhwat memulai bercerita. Namun sang akhwat sepertinya sedang menahan tangis.
Ternyata akhwat tersebut mulai bercerita bahwa ayahnya itu muslim, sedangkan ibunya non muslim. Menurut sang Ikhwan, gak problem seharusnya. Karena laki-laki muslim dnegan wanita non muslim itu boleh dalam banyak hadist. Namun apa masalahnya? Masalahnya adalah ayah dan ibunya menikah di tempat peribadatan ibunya yang non muslim tersebut. Nah.
Untung disampaikan. Coba jika tidak?
Masalah terjadi ketika ayah akhwat tersebut bersikeras menjadi wali nanti ketika si anak menikah. Dan ketika di cek di fiqih manapun oleh sang ikhwan, ternyata hal tersebut menjadikan tidak sah pernikahannya nanti. Karena pernikahan ayahnya tidak sah (menikah tidak menggunakan cara islam dan dianggap pernikahannya tidak sah secara islam), maka ayahnya tidak boleh menjadi wali. Jika dipaksakan menjadi wali, maka pernikahan si ikhwan dan akhwat tersebut menjadi tidak sah. Jadi terpaksa harus menggunakan wali hakim agar pernikahan tetap sah. Namun sang ayah si akhwat tidak terima. Sang ayah mendengar pembicaraan sang akhwat dan ikhwan tersebut dan memanggil ke ruang tengah.
Sang anak kemudian bercerita kepada ayahnya dengan menangis tersedu-sedu.
“Pak, mohon maaf. Saya tidak tahu ceritanya seperti ini. jika tahu pernikahan bapak seperti ini sebelumnya, mungkin saya tidak sejauh ini.” jelas sang ikhwan.
“Lho, emang kenapa?” sang ayah masih kebingungan. “Dia kan anak saya.”
“Problemnya apa?” sang ayah masih mencari apa yang salah.
“Problemnya, ketika bapak nikah itu, akadnya akad islam, maka sah nikahnya. Karena laki-laki muslim dengan wanita non muslim, sah pernikahannya.”
“Maksud kamu apa? Jadi kamu gak terima?” sang bapak sudah naik pitam.
“Bukan tidak terima, Pak. namun sudah begini kondisinya. Saya kalau begitu … mundur saja.” Kata sang Ikhwan dengan halus. Sangat halus.
Sang akhwat menangis lebih tersedu lagi. Bapaknya membanting tangannya ke meja keras-keras.
“Mulai sekarang, kalau kamu gak terima, keluar!” teriak sang Bapak. Anaknya masuk kamar.
Sedangkan sang ikhwan tenang saja. Beliau sudah percaya bahwa ini semua sudah ada yang ngatur. Entah mengapa jadi begini ceritanya.
“Baik, Pak. Namun saya ada dua pilihan. Yang pertama, tetap nikah namun ada wali hakim, atau tidak sama sekali.” Kata Sang Ikhwan.
“Saya memilih tidak sama sekali.” Kata sang ayah dengan tegas. “Saya orang tuanya. Saya merasa sakit jika bukan saya yang menjadi walinya.”
Namun sayangnya ini bukan masalah sakit menyakiti. Ini masalah hukum fiqih yang wajib dijalani. Jika dipaksakan, maka tidak sah, maka hasil anak nanti juga tidak sah. Hinga seterusnya. Hingga seterusnya.
Sebelum hal ini, sebetulnya ibu sang Ikhwan tidak setuju dengan keputusan sang anak untuk menikahi putri dari keluarga yang beda agama. Waktu itu sang ikhwan merasa angkuh dan merasa bahwa mudah untuk membawa keluarga dari pihak perempuan ke dalam islam. Namun tidak semudah itu. Hati manusia adalah Allah yang memiliki.
Allah mengijabah doa, tidak selalu yang diminta—namun bisa jadi yang lebih baik.
Setelah kejadian itu, dua minggu kemudian—sang ikhwan diperkenalkan dengan salah satu akhwat yang menarik hatinya. Sang ikhwan ini suatu waktu lalu menelpon sang akhwat.
Tanpa berpanjang kalam, sang ikhwan bertanya kepada sang akhwat, “Ukhti, sudah ada yang mengkhitbah belum?”
“Kok tiba-tiba gini tanyanya?” tanya sang akhwat kaget mendengar sang ikhwan frontal tanpa basa-basi. Sang akhwat kemudian menjawab, “Belum.”
“Mau nggak antum jadi istri saya?” tanya sang ikhwan tanpa berbasa basi.
Hingga hening cukup lama, sang ikhwan kembali meminta agar diberikan jawaban 1×24 jam kedepan.
Besoknya. Sebelum wakt 24 jam itu habis, sang akhwat menelpon sang ikhwan kembali dan menyatakan kesediaannya. Kemudian sang akhwat mengundang ikhwan tersebut untuk ke rumahnya dan menemui ayahnya. Allahu akbar!
Sang ikhwan hadir di rumahnya dan menemui hal yang jauh berbeda dengan proses yang sebelumnya ia temui.
Di ruang tamu sudah hadir ayahnya, ibunya, dan sang akhwat itu sendiri. Setelah berbasa-basi, sang ikhwan mengakhiri dengan statement yang dia ucapkan,
“Kedatangan saya kesini untuk melamar anak bapak untuk menjadi istri saya.”
Mendengar hal itu, bapaknya diam cukup lama, hingga akhirnya bapaknya berkata, “Sebentar.”
Beliau langsung bergetas ke dapur dengan segera. Sang ikhwan langsung ngerasa jantungan melihat tingkah bapak sang akhwat yang langsung ke dapur. Di benaknya tersirat bencana apa lagi yang akan dia temui.
Sang ikhwan berpikir bahawa bapak sang akhwat ke dapur mau ambil golok. Sang ikhwan agak cemas juga. Ternyata … sang bapak keluar dengan membawa kalender.
“Mau tanggal berapa?” Bapak akhwat tersebut sambil memegang kalender.
Sang Ikhwan juga shock juga sebelumnya. Tapi akhirnya dia menjawab, “Saya pengennya syawal.”
“Kenapa?” tanya bapaknya penasaran.
“Karena Rasul menyunahakan kita menikah di bulan syawal. Aisyah menikah di bulan syawal, dan Aisyah menikahkan wanita muslimah lain juga di bulan syawal.”
“Tanggal berapa?”
“Tanggal 13.”
“Kenapa?” bapak sang akhwat bertanya kembali.
“ya pengen aja tanggal segitu.”
“Kayaknya kelamaan deh.” Kata sang calon mertua.
“tanggal 11 aja, keburu kakak-kakak yang lain balik kampung.”
MasyaAllah.

Sang ikhwan lalu bilang kepada calon mertuanya, “Namun saya hanya punya uang pegangan 20 juta.”
Sang bapak menimpali, “Sudahlah. 10 juta ambil lagi buat kamu. 10 juta lagi biar bapak yang subsidi.”
Keluarga sang akhwat menyanggupi. MasyaaAllah.
Namun sayangnya, uang 20 juta tadi sebenarnya tidak ada. Uang 20 juta tadi hanyalah jaminan arisan dari yang diberikan oleh sepupunya kepada sang ikhwan. Dengan dalih, sang ikhwan dapat sewaktu –waktu mengambil uang ketika akan menikah.
Disinilah ujian kembali terjadi. Ketika mendekati pernikahan, sang ikhwan tidak dapat mengambil uangnya dari janji sepupunya tersebut. Padahal waktu tinggal sedikit lagi.
Suatu ketika sang ikhwan mengisi ceramah. Salah satu jamaahnya adalah petinggi dari suatu perusahaan telekomunikasi di Malaysia. Beliau seusai ceramah mendatangi sang ikhwan dan bertanya kabar. Karena beliau melihat sang ikhwan ini ceramah tidak seperti biasanya. Sang ikhwan pun menjelaskan sebab perkaranya tentang masalah finansial yang ia alami.
Jamaah tadi menyuruh sang ikhwan untuk datang ke kantornya esok hari. Ketika sampai di kantor, ia disodorkan cek dan disuruh untuk menulis angka berapapun yang ia inginkan. Subhanallah.
Singkat cerita sang ikhwan menuliskan angka delapan ribu ringgit sahaja.
“Pak, lalu akadnya ini apa?” sang ikhwan bertanya. Apakah ini pinjaman atau bagaimana.
“Ini hibah dari saya untuk pernikahan antum.” Kata beliau. Allahu akbar.
Akhirnya pernikahan terlaksana dengan izin Allah dan sang akhwat menjadi istri sang ikhwan hingga hari ini cerita ini dituliskan. Sang ikhwan itu sendiri tidak lain adalah Ustadz Fatih Karim sendiri.

Tentang Ikhwan
Laki-laki itu adalah qowwam. Qowwam adalah leader. Yang bisa memimpin. Berarti ia harus mempunyai pemahaman tentang islam. Lalu bagaimana ia mejadi imam. Karena ia bertanggung jawab terhadap ibunya, istrinya, adik perempuannya, dan anak perempuannya. Karena itulah laki-laki disebut sebagai  tulang pungung.
“Ada dosa yang tidak bisa dihapus oleh sholat, shaum, haji tidak bisa menghapusnya.”
“lantas apa yang dapat menghapusnya Ya  Rasulullah?”
“Bekerja. Mencari nafkah yang halal.”
Hadist ini untuk para laki-laki.

Adapun kriteria laki-laki ideal ada tiga, yaitu.
Quwwatul Jasadiyah
Quwwatul Fikriyah
Quwwatul Ruhiyah

Quwwatul Jasadiyah
Ikhwan itu harus kuat. Karena mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Bahkan di masa Umar bin Khatab, Umar menepuk perut orang yang gendut dan berkata, “Malas.” Menandakan bahwa seorang ikhwan tidak pantas berperut buncit dan bermalas-malasan.
Adapun beberapa tips yang Ustadz sampaikan kepada para ikhwan:
Rutinkan shalat tahajjud.
Rutinkan olah raga
Tidak tidur setelah shubuh

Quwwatul Fikriyah
Seorang lelaki wajib untuk memiliki pengetahuan lebih tentang agama. Tidak hanya ibadah-ibadah wajib dan doa saja. Tetapi juga pakar tsaqofah islamiyah. Perlu baginya membaca kitab-kitab seperti kitab Ibnu Katsir untuk membangun aqliyah islamiyah—cara berpikir islam dan pemikirannya terbina.
Harus ngaji! Tentang ilmu-ilmu islam, tentang fiqih, tahsin, dan sebagainya. Makanya sahabat dahulu begitu cerdas. Pernah dikisahkan ketika Umar berangkat meninggalkan Rasulullah, lantas Ali bin Abi Thalib datang dan Rasulullah menyampaikan kepada Ali tentang Surah At-Taubah dan meminta Ali untuk menyampaikan kepada sahabat lainnya. Bayangkan. Betapa cerdas Ali hingga apa yang disampaikan oleh Rasul langsung terinstal di kepalanya dan langsung dapat disampaikan kepada yang lain.
Itulah mengapa ulama terdahulu sangat sangat menjaga otaknya dari hal-hal yang bisa merusaknya. Itulah mengapa para hafidz quran hafalannya sangat lancar. Otaknya pun sangat jernih dan perilakunya sangat dijaga supaya hafalannya tidak lepas. Bahkan Imam Syafi’i dalam usia 7 tahun sudah mampu menghapal 30 juz. Pada saat diuji oleh gurunya tentang kitabnya jilid satu, tetiba hilang semua hapalan Imam Syafi’i saat itu dikarenakan ia tidak sengaja melihat betis wanita tersingkap. Itulah mengapa para hafidz sangat menjaga bagaimana ia menjaga pandangannya. Hafalan Quran lebih mudah lepas daripada unta dari ikatannya.

Quwwatul Ruhiyah
Cara melatih ruhiyah adalah dengan mengamalkan amalan-amalan sunnah secara rutin. Rutinkanlah puasa sunnah, sholat rawatib, tahajud, berdzikir, dan lain sebagainya. Ibnu Mas’ud bahkan diriwayatkan ketika beliau sholat, hingga burung pipit itu hinggap saking lama dan tenangnya beliau sholat.
Dengan seringnya mengamalkan sunnah, maka akan melembutkan hati kita. Hati kita akan menjadi sangat peka. Melihat orang yang memerlukan bantuan, kita tergerak untuk membantu. Melihat kemungkaran, hati kita tergerak untuk merubahnya.
Lelaki jika ruhiyahnya bagus, maka akan lebih lembut kepada istrinya. Tengoklah Rasulullah, yang bahkan sangat lembut kepada Aisyah bahkan ketika Aisyah sedang marah dan membanting piring karena cemburu.
Coba lihat fenomena sekarang, dimana banyak kekerasan rumah tangga terjadi karena suaminya tidak mengerti islam dalam dirinya. Tidak ada rasa kasih sayang dalam dirinya disebabkan karena ruhiyahnya. Itulah mengapa membina hubungan dengan Allah sangat penting. Jika hubungan dengan Allah sudah baik, maka hubungan dengan manusia pun, termasuk dengan istri pun akan semakin baik. Allah akan ridho pada kita.

Sehingga menjadi lelaki idaman, adalah dengan mengimplementasikan ketiga poin diatas. InsyaaAllah itu akan membuat kita menjadi insan yang terbaik.
Wallahu a’lam bisshowab

Intermezo Tentang Khitbah
Ustadz Fatih Karim menjelaskan tentang khitbah pada kami di akhir-akhir kajiannya.
Sebenarnya ta’aruf dulu atau khitbah dulu?
“Yang saya pahami, khitbah dulu baru boleh ta’aruf. Kenapa? Karena kamu boleh mengenal dia lebih dalam ketika dia calon istrimu.”
Khitbah sendiri ada dua pendapat.
Boleh khitbah kepada putrinya saja. Ayah/wali nya cukup mengetahui saja.
Khitbah itu kepada ayahnya/walinya saja. Putrinya cukup mengetahui saja.
Mana pendapat yang terkuat? Dua-dua nya kuat. Sedang Ustadz FatihKarim mengambil pendapat pertama. Khitbah itu kepada putrinya. Walinya cukup mengetahui saja.
Karena itu khitbah, bukan menikah. Jika menikah, memang harus ke wali nya.

Ketika sudah melamar, sudah ada tanggal pernikahan maka diperbolehkan hal-hal sebagai berikut:
Ketika sudah menjadi calon suami dan istri, diperbolehkan untuk saling mengingatkan perihal kebaikan. Seperti mengingatkan sholat dhuha, sholat istikharah, shaum sunnah, dan sebagainya.
Diperbolehkan menggunakan sapaan yang disukai.
Memberi hadiah.
SMS an dan teleponan sepanjang tidak berlebihan dan mengingatkan kebaikan.
Yang tidak boleh adalah berkhalwat. Karena #NoKhalwatBeforeAkad

Intermezo Menyegerakan Menikah
Jatuh cinta itu tidak dosa. Itu adalah fitrah. Namun yang dosa adalah memenuhi  fitrah dengan menginjak hukum fitrah itu sendiri. Pacaran itu bukan fitrah, yang fitrah adalah menikahlah.
“Jika jatuh cinta, maka menikahlah”
Rasul bersabda,
“Jika masuk masa-masa kamu siap menikah. Maka segeralah menikah.”
“Tergesa-gesa itu perbuatan setan. Kecuali tiga! Yang pertama adalah membayar hutang. Yang kedua menguburkan jenazah. Yang ketiga menikah.”

Resume by Syarif Hidayatullah (saungkertas.com)

Advertisements