Resume Majelis Malam Ahad 12-April-2014

bersama Ust Bendri Jaisyurarahman

IMG-20140412-00362 - Copy

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beibadah kepadaKu.”
(QS. adz-Dzariyat: 56)

Nikah maupun tidak menikah semuanya memiliki nilai ibadah. Jika nikah adalah separuh agama, maka separuh yang lainnya adalah beramal.

Rasulullah SAW mengatakan hal ini terkait bahwa ini adalah sebuah pentujuk yang diriwayatkan oleh Imam Al Ghozal, bahwa

sesungguhnya jika ia telah menyempurnahkan separuh agamanya, maka bertakwalah kepada setengahnya yang lain.

Sehingga setiap dari kita yang berniat sungguh-sungguh menikah untuk meredam syahwat untuk mendapat ridho-Nya, maka sesunggunya adalah kita telah meraih ketaatan separuh agama, sisanya adalah beramal. Kita baru sempurna jika kita sudah meredam syahwat dan beramal sholeh.

Ketakwaan itu ada dua:

  1. Meredam syahwat
  2. Beramal yang banyak

Jadi kalau orang sudah meredam syahwatnya, maka ia sudah meredam syahwatnya, maka sisanya adalah perbanyak amal sholeh.

Menurut Imam Al Ghozali, pangkal dari syahwat itu adalah seksual. Maka orang yang sudah menikah secara halal, maka dia sudah teredam syahwatnya. Sehingga dia tidak memiliki alasan untuk menyalurkannya kepada yang haram.

Jadi tidak cukup setelah nikah semuanya berhenti. Masih ada PR untuk tetap produktif—untuk menjadikan pernikahanini menjadi sinergi dan melahirkan generasi yang hebat dan luar biasa.

Tugas dasar pernikahan adalah meredam syahwat. Karena demikian, sebagian ulama menghukuminya dengan tidak mutlak. Contohnya Ibnu Taimiyah—ulama bujang yang meredam syahwatnya dengan kesibukan dalam berilmu.

“Selama ia dapat meredam syahwatnya dan beramal, mkaa sudah sempurna agamanya. Ulama dulu juga ada yang bujang. Dan mereka gak ngenes.” –kata Ustadz Bendri sambil melihat ke bujang-bujang seisi aula-

 

Apakah setelah menikah beneran meredam syahwat?

Nyatanya banyak juga yang sudah menikah namun masih tepe-tepe ke mantannya. Masih melakukan upaya-upaya rendah seperti itu dan tidak menundukkan pandangan ke lawan jenis yang bukan suami/istrinya. Dengan demikian berarti ia sudah merusak tatanan pernikahan. Sejatinya ia tidak melakukan hal2 lain yang memberiarkan syahwatnya liar.

Dengan demikain, harus ada dalam suatu pernikahan, adanya Proyek Peradaban. Proyek yang dibentuk oleh suami dan istri untuk memperbaiki peradaban dengan pemikiran bersama dan terukir dalam sejarah, sehingga ada prestasi yang diiwariskan kepada anak cucunya.

“Banyak yang sudah nikah malah tidak Sholat Subuh Jamaah di masjid,
dan malah menarik dirinya dari tuga dakwah”

 

Berdasar penuturan Ustadz Bendri, tujuan pernikahan adalah untuk 2 hal:

  • Meredam syahwat
  • Produktif dalam kebaikan bersama

 

Mawaddah

Pasangan yang kita dapatkan selayaknya yang dapat meredam syahwat kita. Prinsip mawadah ditunjukan dengan kedekatan fisik.

“Prinsip mawadah itu pengen nempel terus” kata Ustadz

Rasul pernah berkata kepada seorang Muhajirin yang akan menikahi wanita Anshor,

“Lihatlah dulu wanita tersebut. Agar ada ketertarikan padamu.”

Ini yang mendasari Jamilah—Habibah menggugat cerai suaminya. Pasalnya, Jamilah ingin menyerahkan cintanya pada suaminya, namun tetap saja tidak ada gairah yang menjadikannya cinta pada suaminya tersebut. Pada suatu riwayat, saking tidak tertariknya dengan suaminya, jika Jamilah melihat suaminya, ingin sekali ia meludah.

Jamilah mengakui bahwa ia menggugat cerai bukan karena kekurangan ibadah suaminya, tapi adalah karena Jamilah tidak dapat memberikan cintanya pada suaminya. Maka Rasul memakluminya dan berkata bahwa itu adalah hal yang wajar. Namun, tetap—sikap yang terbaik adalah sabar terhadap pendampingnya.

Jika wanita melakukan empat amal berikut:

  1. Menunaikan shalat wajib
  2. Puasa di bulan ramadhan
  3. Menjaga kesuciannya
  4. Taat kepada suaminya

“Maka masuklah ke surga dari pintu manapun yang kamu suka”

Jamilah sadar akan kapasitasnya. Dia sholehah, dia menunaikan sholat, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kesucian. Namun dia mengkhawatirkan jika dia tetap bersama suaminya, dia tidak dapat taat kepadanya karena tidak tertarik.

 

Aku mencintaimu walaupun

Ada level yang lebih tinggi bagi orang yang sudah memahami. Mereka bukan hanya menikah untuk meredam syahwatnya. Namun jauh yang lebih mulia dair itu adalah untuk berkomitmen terhadap janjinya pada Allah.

Ketika orang akan menikah, maka dikatakan kepada mempelainya,

”Aku memilihmu karena.”

Namun ketika sudah berkeluarga, maka dikatakan kepada istrinya,

“Aku mencintaimu walaupun.”

 

Komitmen itu dilatih. Maka dari itu bagi mereka yang mencari pasangan yang sempurna—bersiaplah jomblo selamanya.

 

Lelaki Sejati

Ibnu Mubarok bercerita tentang seorang lelaki di jamannya yang prinsipnya luar biasa. Dia menikahi seorang wanita dari perantara gurunya—yang ia sendiri belum melihatnya.

Ketika malam pertama dan membuka pintu kamarnya, ternyata fisik istrinya mengecewakan hatinya. Tapi ia berprinsip “Aku mencintaimu walaupun”. Setelah itu dia terus memperlakukan istrinya secara ma’ruf selama 25 tahun, dia tidak menikah lagi, tidak selingkuh, bahkan tidak mencari yang lain. Istrinya sakit setelah 25 tahun setelah itu.

Sang istri yang sedang sakit itu berpikir bahwa umurnya tak akan lagi panjang, namun ada pertanyaan yang mengganjal hatinya. “Suamiku, ada hal yang ingin aku tanyakan pada saat awal menikah denganmu.” Kata sang istri. “Aku tahu kamu pada saat malam pertama itu kamu sepertinya tidak bergairah denganku, yang justru aku heran adalah kenapa sampai sekarang kamu tidak menceraikan aku dan tidak menikah dengan wanita lain?

Dijawab oleh suaminya,

“Ketahuilah istriku. Saat aku menikah, aku mengucap janji dengan Tuhanku. Maka dari itu aku menepati janji kepada Tuhanku dan Tuhanku menyuruh aku untuk memuliakan dirimu sebagai istriku. Karena itulah, ketika aku berkhianat pada Tuhanku, kamu boleh katakan aku telah berkhianat terhadap syahadatku. Maka selama syahadatku masih kuat, percayalah aku akan komitmen terhadap dirimu.”

Yak, lalu terdengar keriuhan dari sisi akhwat. :3

Dear Akhwat,

pilihlah lelaki yang sejak mudanya komitmen terhadap syahadatnya, maka ia akan komitmen terhadap akadnya setelah ia menikah.

 

Maka bagi wanita rumusnya adalah separuh agamaku bersamamu. Menjadikan dirinya menjadi bintang dan menjadi bidadari untuk suaminya. Itulah kenapa pernikahan Rasul menjadikan istri-istrinya bintang. Aisyah contohnya, yang menjadi produktif dan menjadi penghapal hadist. Zainab, dikenal sebagai istri yang ahli sodaqoh hingga mendapatkan julukan ummul masaakin. Hafsah, istri Rasul yang ahli ibadah, ahli shiyam, ahli qiyaam, hingga setelah menikah dengan Rasul, ia tak pernah meninggalkan sholat malam. Maimunah, dikenal sebagai penulis wahyu. Istri-istri Rasul lainya pun juga menjadi bintang—menjadi produktif dalam keunggulan amalannya.

 

Dear Akhwat, maka serahkan dirimu pada seseorang yang rumusnya adalah:

“Aku akan membawamu bukan hanya sekedar bulan madu di dunia, karena kita kelak akan bulan madu sepuas-puasnya di syurga. Maka siapkansegala bekal untuk kita ke syurga, Sayangku”.

 

Jadi buat ikhwan, janganlah engkau menyatakan lamaran, “Maukah kau menjadi istriku”, namun katakanlah kepada calon istrimu,  “Maukah telapak kakimu menjadi surga untuk anak-anakku nanti?” #eaaa

 

Ada sebuah cerita tentang teman Ustadz. Suaminya saat itu mahasiswa, sedangkan sang akhwatnya sudah alumni, lebih senior dari si ikhwannya. Akhwat ini menjadi pimpinan akhwat di Lembaga Dakwah Kampus, d an ikhwannya menjadi pimpinan ikhwan. Tiap rapat, si akhwat ini pasti berbeda pendapat dengan si ikhwan ini—selalu diawali dan diakhiri dengan keributan. Pokoknya, ada aja yang bikin merka ribut. Bahkan ketika berada di lapangan selalu tidak kompak. Akhirnya didamaikanlah oleh Ustadz mereka. “Dakwah kita tidak akan berjalan jika seperti ini.” tukas Ustadznya. Si Akhwatnya merasa bahwa dia senior dan berkata bahwa dia lebih berpengalaman.

Si Ikhwannya tidak melawan, hanya berkata, “Gini deh, Ukhti. Maaf nih. Saya lihat dari beberapa lama kita ribut. Saya khawatir kalo begini terus—gak ada ikhwan yang mau sama Ukhti. Kasihan. Gini deh, gimana kalo kita nikah aja.”

Si akhwatnya langsung naik pitam, “Apa maksud kamu!”

“Lha maksud saya sederhana. Dengan pernikahan ini yang pertama kita gak ribut lagi dan kita bisa berdakwah dan bisa mencapai surga. Selesai.”

Si Ikhwan itu pun menantang akhwat seniornya itu. Si akhwat itu menerima tantangan si ikhwan dengan amarah.

“Setelah menikah—kita akan membuat sesuatu yang lebih hebat. Kamu tidak lagi membuat keributan. Ketika kamu nikah sama saya, dan saya jadi imam kamu. Dan setelah ini kita akan membuat proyek dakwah bareng. Karena tujuan kita adalah surga.”

Ketika ditanya oleh Ustadz Bendri tentang pernikahan keduanya setelah memiliki anak, “Mbak masih ribut gak sampe sekarang?”

Kata si akhwat yang kini sudah menjadi ibu 3 anak dan istri dari si ikhwan, “Oh masih! Justru itu yang membuat kita masih bertahan. Karena kita harus paham bahwa sejarah kami bertemu adalah dengan keributan. Maka pernikahan ini akan bertahan selama kita ribut.” #pfft

 

Ustradz Bendri berpikir bahwa pernikahan yang diceritakan tadi agak menyimpang—secara proses. Tapi beliau mengerti benar bahwa sang akhwat ini adalah aktivis. Tidak ada yang ia cari di dunia ini kecuali Ridho Allah SWT. Maka ia mengetahui betul kalimat “Separuh Agamaku Bersamamu” ia tidak meletakkan pernikahan itu menjadi suatu hal yang membius dia dan membuat dia terganjal masuk surga karena cinta yang lebih besar dari cinta kepada Tuhan dan Rasulnya.

 

Cerai karena Allah

Abdurrachman bin Abu Bakar menikah dengan Atika binti Zaid bin Amar bin Nufail—seorang Janda. Setiap yang menikah dengan Atika, selalu syahid. Abu Bakar berpikir bahwa Atika ini adalah muslimah yang hebat, ia ingin agar anaknya juga syahid seperti suami-suaminya terdahulu.

Setelah mereka menikah, mereka begitu mesra—tapi itulah yang membuat mereka terbius. Kemesraan mereka itu terlihat oleh publik dan membuat orang-orang yang melihatnya menjadi iri. Hingga Abu Bakar merasa ada yang mengganjal ketika anaknya sudah mulai terlambat sholat subuh di takbir pertama. Esok harinya terlambat satu rokaat sholat subuh. Besoknya begitu lagi, dan akhirya Abu Bakar berpikir bahwa alih-alih menjadi mujahid, anaknya malah menjadi orang yang lemah. Abu Bakar takut pernikahannya anaknya itu mawadah—mesra,  tapi tidak berkah.

Dalam konteks perceraian Abdurrahman dengan Atika, menjadikan perceraian itu adalah perceraian terindah dalam sejarah. Setelah perceraian itu, masing-masing dari mereka merenung selama setahun. Hingga Abu Bakar berpikir bahwa mereka sudah bertaubat dan akhirnya menikahkan mereka kembali. Sebulan setelah itu, Abdurrahman syahid.

 

Jodoh Dunia Akhirat

Ada tiga jodoh yang telah ditetapkan:

  1. Jodoh dunia tapi tidak di akhirat.

Di dunia  bersama, tapi di akhirat tidak. Seperti Asiyah dengan Firaun—Asiyah beriman sedangkan Firaun tidak. Juga dengan pasangan yang sama-sama kafir. Mereka tidak akan disatukan di akhirat.

  1. Tidak jodoh di dunia, tapi jodoh di akhirat.

Ini terjadi ketika sesama mukmin menikah, salah satu dari merka keburu meninggal. Maka mereka akan disatukan di surga.

  1. Jodoh di dunia dan di akhirat.

Pernikahan sesama mukmin yang diridhoi Allah dan cintanya kepada suami/istrinya tidak melebihi cinta kepada Allah.

 

“Nikahilah lelaki yang baik agamanya. Kalau ia dapati istrinya cantik, ia akan memuliakannya. Jika ia tidak mendapat istri yang tidak sesuai dengan seleranya, dia tetap menjaga kehormatannya. Tidak mempermalukannya, dan tidak menyakitinya.” – Hasan Al Basri-

 

Jangan terjebak dengan cinta yang membuat kita tidak produktif dengan amal. Cinta yang membuat kita lupa kepada Allah tidak akan membawa kita kepada surga. Sebagaimana cerita tentang Umar bin Abdul Aziz dengan Fathimah. Suatu saat dia naksir dengan seorang wanita cantik dan lajang. Saat itu beliau ingin untuk berpoligami, sedangkan sang istri benci dengan poligami, sehingga istrinya tidak mengizinkan. Umar meskipun dia punya hak untuk menikah lagi, dia menghormati keputusan istrinya. Dia tidak selingkuh dan tetap berkomitmen. Tapi karena terbayang oleh gadis tersebut, hingga ia jatuh sakit. Akhirya istrinnya merasa bersalah dan akhirnya dalam hati mengizinkan suaminya berpoligami. Fathimah kemudian mendatangi si wanita tersebut dan meminangnya untuk menjadi madunya. Gadis tadi bersedia jadi madu.

Fathimah berencana membawa gadis ini sebagai kejutan bagi suaminya. Ketika dibuka pintu kamarnya, Umar terkejut, hingga istrinya berkata, “Suamiku, dengan ini aku izinkan kamu menikah lagi.”

Sang gadis pun mendekat dan bertanya pada Umar, “Benarkah Anda ingin menikahi saya?”

Namun apa yang dikatakan Umar sungguh diluar dugaan, “Aku pernah mencintaimu, tapi aku tidak mau menikahimu.” Sang gadis pun terkaget.

“Jika aku mencitaimu saja membuatku sakit, bagaimana jika aku menikahmu? Mungkin aku bisa mati.” Kata Umar.

Akhir cerita, karena Umar tidak mau silaturahmi dengan gadis tersebut putus, gadis itu kemudian dinikahkan dengan keponakan Umar bin Abdul Aziz.

Resume by : Syarif Hidayatullah

Link : saungkertas.com/wp/separuh_agamaku_bersamamu/

 

 

Advertisements