Alhamdulillah, kemarin saya diberi kesempatan untuk hadir di Kajain Malam Ahad di AQL, tebet. Pengisinya adalah ustadz Ismedias, alhamdulillah materinya sangat bagus.
Terlebih lagi, ternyata yang dateng ke kajian juga beberapa teman-teman kampus juga. Jadi berasa reunian. Hehe…

MMA with ust.Ismeidas

 

Nikah itu adalah awal dari suatu peradaban. Nikah pada dasarnya adalah pembentukan generasi yang seharusnya tangguh. Jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah setelah kita. Maka dari itulah pernikahan harus dipersiapkan sematang mungkin.

Menikah layaknya seperti naik gunung, kau temui ia begitu indah. Kau lihat dari lukisannya saja begitu indah. Apalagi seperti gunung Wijaya di Papua, yang dikenal karena keindahannya dan satu-satunya gunung di Indonesia yang memiliki salju abadi.

“Gunung itu menjulang tinggi
Di kakinya kau dapati padang rumput yang berseri
Di tebingnya ada untaian indah pelangi
Hingga puncaknya adalah salju abadi
Kadang kau temui jalanan menanjak
Kadang kau harus berjalan merangkak
Tapi jangan putus asa hingga kita ke puncak
Hingga disana kita bisa tersenyum dan bersorak”

Pergi ke gunung begitu indah kelihatannya, begitu memuaskan bila sampai di puncak dan memandangi kesekelilingnya, namun jangan coba-coba naik gunung tanpa bekal, karena bukan keindahan yang akan di dapat, namun kematian yang akan menanti.

Begitupun pernikahan, hanya yang kuat hati nyalah yang akan sampai pada ujung indahnya. Mencicipi mawadahnya, merasakan indahnya berjuang di jalannya, hingga akhirnya bertemu kembali di surga. Aamiin.

Kesiapan pernikahan utama bukanlah uang, karena layaknya pergi ke gunung, bukan uang yang dibutuhkan, namun akomodasi, perlengkapan yang memadai, fisik yang kuat, dan pengetahuan yang mumpuni.

“Jika kalian mampu wahai sahabat, maka menikahlah.”

Dalam pra pernikahan, yang biasa memulai adalah laki-laki. Janganlah menunggu mapan untuk menikah, karena rezeki adalah Allah yang memberi, bukan kita yang menghasilkan. Syarat untuk menikah adalah berakal, sudah baligh, dan dapat membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Karena jika selain itu pertimbangannya, maka tidak akan dimulai prosesnya.
Jika sudah berniat untuk memulai, maka luruskan niat kebaikan hanya untuk Allah. Alkisah, seorang lelaki sudah cukup baginya usia untuk menikah, alhamdulillah beliau sudah hapal 15 juz Al-Qur’an. Namun apa mau dikata, sang lelaki ini terkenal buruk rupa. Sudah ditolak berkali-kali oleh akhwat yang beliau propose.Ia sempat putus asa akan jodoh baginya. Hingga suatu saat ia mengadu ke ustadznya akan hal ini. Sang ustadz berkata padanya, “wahai Fulan, mulai sekarang ubahlah pandanganmu, yang awalnya untuk mengajak muslimah untuk menikah dan menjadi istrimu, ubahlah menjadi membahagiakan muslimah tersebut.” Apa maksudnya dibalik itu? Setidaknya, meski ditolak, dia tidak akan sakit hati, karena pandangannya sekarang adalah membuat muslimah bahagia bahwa masih ada seseorang yang datang dan melamarnya. Demikian.

Dear Akhwat,
begitu tinggi anganmu untk menjadikan calon imammu nanti pasangan di surga. Padahal yang sebenarnya sedang kau cari hanyalah pangeran di dunia. Boleh jadi mereka yang datang sebelum waktu-waktu itu adalah calon imam yang mampu mengantarkanmu ke surga.

Mari saya ceritakan tentang sosok yang kau akan takjub, ikhwah fillah. Cerita tentang Ummu Sulaim.
Ummu Sulaim awalnya memiiliki suami bernama Malik bin An-Nadhar. Semenjak islam datang, Ummu Sulaim mengazamkan dirinya untuk memilih islam sebagai jalan hidupnya. Namun sayangnya, keislamannya tidak disertai dengan keislaman sang suami, sehingga suaminya meninggalkannya ke Syam dan meninggal di perjalanan kesana. Mulai saat itu Ummu Sulaim menjanda dan menjadi orang tua tunggal bagi anaknya semata wayang.
Ketika bertemu dengan Rasulullah, Ummu Sulaim menghadiahkan anak satu-satunya itu untuk diasuh sebagai pendamping Rasulullah, dan Rasul menjadikannya sebagai sahabat termuda yang sangat disayang. Dia adalah Anis bin Malik, sahabat yang kau jumpai banyak kisahnya.
“Wahai Rasulullah, ini Unais (nama kecil Anas). Aku mendatangi engkau agar dia mengabdi kepada engkau. Maka berdoalah kepada Allah bagi dirinya” Maka, baginda bersabda, “Ya Allah, perbanyakkanlah harta dan anaknya” (Dala’ilun-Nubuwwah, 6/194-195).

“Belum sempurna iman seorang diantara kalian hingga aku lebih dicintai daripada dirinya, anaknya, keluarganya, dan semua manusia” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sejak saat itu Anas bin Malik mendapat pengasuhan penuh di rumah Rasulullah SAW, yang mulai mengantarkannya kepada kedudukan mulia di kalangan sahabat nabi dan menjadi penghafal banyak hadist Rasulullah.
Cerita lain tentang Ummu Sulaim r.a. Selang waktu berjalan sepeninggal suaminya, Ummu Sulaim didatangi oleh Abu Talhah Al Anshori yang datang untuk meminangnya. Abu Talhah adalah tokoh terpandang dan dikenal akan kedudukan dan keberaniannya pada waktu itu. Sayangnya, saat itu Abu Talhah masih musyrik dan belum masuk islam. Lalu apakah yang dikatakan Ummu Sulaim kepada orang yang datang melamarnya tersebut?
“Wahai Abu Talhah, apakah kau engkau tahu Tuhan yang kau sembah itu terbuat dari kayu?” tanya Ummu Sulaim kepada Abu Talhah.
“Ya”, jawab singkat Abu Talhah.
“Tidakkah engkau malu menyembah kayu?” hingga Ummu Sulaim melanjutkan perkataannya, “Jika engkau masuk islam, maka aku bersedia untuk menikah denganmu. Aku tidak mengharapkan mahar selain islam.”
Sahabat, mari kita memperbaiki diri untuk Allah. Memurnikan kecintaan kita hanya untuknya. Berjuang di jalan dakwahnya bersama pasangan kita di dunia yang dapat mengantarkan kita ke surga-Nya.
***

Dear akhwat,
jodoh itu adalah ikhtiar, dan ikhtiar itu tidak hanya menunggu.
engkau selalu menunggu pangeranmu di balik bilikmu sambil malu-malu,
padahal boleh jadi calon-calon pangeran surgamu telah banyak melirikmu,
terbelalak dirimu ketika usia telah memakanmu,
dan masih bertanya dimanakah jodohmu disetiap ujung kegalauanmu,

Ada sebuah kisah nyata yang diceritakan Ustadz Ismeidas kemarin. Alkisah seorang lelaki, sebut saja Fulan. Si Fulan ini adalah seorang yang lurus dan baik agamanya. Selalu terjaga pandangannya dari apa-apa yang diharamkan oleh agama. Suatu hari ia berpapasan dengan seorang akhwat di tangga di sebuah lembaga yang ia ada di dalamnya. Terpesona ia dengan eloknya akhwat itu, seraya ditundukkan wajahnya dan beristighfar ia. Setelah momen itu, entah kenapa semakin sering ia temui ia berpapasan dengan akhwat itu di dalam lembaga itu. Tiap kali bertemu, senantiasa istighfar yang ia ucapkan, dan senantiasa ditundukkan matanya.
Merasa tidak cukup kuat dalam menjaga dirinya, ia pun keluar dari lembaga itu agar tidak berpapasan lagi dengan sang akhwat.
Hingga suatu ketika, telah datang baginya waktu dimana ia siap untuk menikah. Dia sampaikan ke ustadznya, dan ustadznya memberikan beberapa CV akhwat yang ia akhirnya pilih salah satu untuk kemudian di follow up. Ketika sudah dipilih olehnya, tidak ada rasa sayang atas apa yang telah dipilihnya. Akhirnya, atas izin ustadznya, si Fulan ini meminta foto akhwat tersebut untuk ia selalu bawa kemanapun. Ia simak baik-baik dikala waktu senggangnya. Agar timbul rasa cinta pada akhwat yang telah dipilihnya. HIngga lambat laun timbul rasa suka pada akhwat yang fotonya ia genggam kemana-mana itu.
Suatu ketika, si Fulan ini sedang tafakur alam bersama sahabat-sahabatnya. Kebetulan masih ada sinyal dimana ia berpijak saat itu. Tiba-tiba ada telpon dari ponselnya, dan ketika diangkat, itu adalah dari istri ustadznya yang memberikan CV akhwat kepadanya. Istri ustadznya tersebut mengatakan pada si Fulan bahwa akhwat tersebut menolak si Fulan.
Seketika itu hancur hati Fulan. Di kaki gunung itu ia kuburkan perasaannya bersamaan dia kuburkan foto yang digenggamnya. Si Fulan orang baik, tak ada hal yang membuat ia layak ditolak, namun apa daya ia ditolak oleh akhwat yang ia harus berusaha untuk mencintainya. Karena itu yang dipilihnya.
Sepanjang jalan ia obati luka hatinya, hingga ia kembali ke ustadznya dan ustadznya memberikan lagi dua CV akhwat. Si Fulan cukup hati-hati, hingga dia berkata pada ustadznya, “Ustadz, adakah satu akhwat lagi yang bisa kau berikan sebagai pilihan untukku?” mungkin Fulan ingin memantapkan hatinya terhadap apa yang ditawarkan sang ustadz. Wallahu a’lam.
Sang ustadz kembali dengan membawa satu CV lagi, dan ketika disimak, itulah akhwat yang dulunya ia hindari. Subhanallah. Wallahu a’lam bisshowab.

“Ingatlah kawan, bahwa kita tak mempu mengubah angin, tapi kita bisa mainkan layarnya.
Kita tak mampu mengalihkan arah arus air, namun kita dapat memainkan kemudinya.
Ingatlah, yang mnurunkan sakinah adalah Allah
Katakanlah,
Ana brsama antum karenyaNya, jika tidak ada Nya, maka tidak ada cinta itu.
Karena niat karena Allah,tidak akan pernah kalah.”

Masih dalam konteks yang sama, Ustadz Ismeidas memberikan tausiyah tentang impian keluarga sakinah. Tidak lain tidak bukan, yang dijadikan contoh tauladan adalah keluarga Rasulullah SAW.

1.Rasulullah adalah Pecinta Sejati
Rasulullah tidak memanggil istrinya, melainkan dengan panggilan sayang. Rasul memanggil “Yaa Humairok” kepada Aisyah—istriku, yang pipinya kemerah-merahan. Kadang ia panggil, “Yaa Ais” dimana itu adalah panggilan manja Rasul kepada Aisyah. Rasul bahkan bermain kejar-kejaran dengan Aisyah r.a. Dan saat makan, Rasul meminta makanan yang ada di tangan Aisyah dan memakannya dari bekas gigitan Aisyah, bukan dari piringnya. Rasul juga tak pernah keluar rumah saat Aisyah marah. Ketika Aisyah marah, dipencet hidung aisyah pelan-pelan, hingga marahnya mereda berganti senyum yang merekah. Pernah suatu waktu Rasul tidur di luar, dan didapati ditanyakan kepada Rasul keesokan harinya, mengapa Rasul tidak membangunkannya saat ia datang malam hari. Ternyata Rasul tidak ingin mengganggu waktu tidur istrinya itu. Bahkan, suatu waktu, Rasul dan sahabat sedang dalam perjalanan di gurun, anting yang kata Rasul adalah kesukaan dari Aisyah jatuh. Padahal itu bukan anting yang mahal. Namun Rasul turun dan mencarinya. Hingga sahabat pun turun dan ikut mencari hingga menemukan anting itu. Subhanallah.

2.Suami Terbaik
Ustadz Ismeidas berkata, jika ada suatu pertengkaran keluarga, yang patut disalahkan adalah suaminya. Mengapa demikian? Karena jika istri yang bawel, itu wajar. Jika hingga berantem, maka suami yang gagal mengendalikan dirinya. Menjadi lelaki tidak boleh ikutan bawel kata Ustadz, cukup nasehatin sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, jika belum cukup, maka pisah ranjang, jika belum cukup, bisa dengan talak, itupun membutuhkan proses yang tidak serta merta. Rasul pun, jika Aisyah sedang marah, Rasul akan diam hingga Aisyah marahnya mereda. Begitupun Umar, singa padang pasir, pemimpin di banyak peperangan. Satu-satu nya manusia yang apabila setan melihatnya, maka setan akan berputar mencari jalan yang lain untuk menghindarinya, pun hanya diam ketika istrinya marah. Ketika ditanyakan mengapa, Umar menjawab, “Dia sudah memasak untukku, dia juga yang membesarkan anak-anakku, lalu mengapa aku tidak mendengarkannya?”

3.Menikah Bukan Sekedar Mencari Temen Bobo
Visi menikah adalah untuk bahagia dunia akhirat. Tidak hanya merasakan indahnya cinta di dunia, namun juga bagaimana meluruskan niat untuk cinta pada-Nya dan menjalani hidup dengan ridho-Nya, sehingga dapat berkumpul kembali di surga-Nya.
mungkin banyak sekarang beredar pemahaman tentang “Cinta tapi beda”, dimana cinta sesama makhluk diletakkan diatas cinta diatas Tuhannya. Cinta dunia yang akan didapatkannya, namun hanya kehinaan di neraka yang mereka dapat setelahnya.

4.Menikah itu Direncanakan dan Disiapkan
Apapun yang kita punyai sekarang, insyaAllah cukup, asal serius ditujukan untuk memenuhi setengah dien kita. Siapkan bekal, kawan! Jika kita ke gunung saja membutuhkan bekal yang kita bawa bersama carrier kita, kita pun harusnya mempersiapkan bekal lebih untuk jalan kita ke surga nantinya.

5.Memilih Satu Bunga, Bukan Sekedar Penantian
Ada suatu kisah seorang guru di sebuah taman kanak-kanak. Guru tersebut menyuruh murid-muridnya yang masih kecil untuk mengambil satu bunga di taman untuk diberikan kepada sang guru. Guru tersebut memberi waktu 5 menit untuk mereka. Bergegaslah anak-anak ini ke taman dan dipetiknya satu bunga lalu ia bawa ke kelas seperti perintah gurunya.
Lalu, sang guru berkata, “Anak-anak, ambillah lagi satu bunga, namun yang ini adalah bunga paling indah yang kalian temui di taman. Ambillah satu lalu bawa ke kelas”. Akhirnya anak-anak itu kembali ke taman mereka, dan apa yang terjadi? Banyak bunga-bunga berguguran, kawan. Seorang anak memetik salah satu bunga, berjalan ia satu langkah, ditemuinya bunga yang kelopaknya lebih menawan, ia petik lagi, berjalan ia beberapa langkah lagi, ditemuinya bunga yang lebih indah warnanya, ia buang lagi apa yang digenggamnya, ia petik lagi, dan tak pernah selesai hingga waktunya habis.
Sahabat, ini mengingatkan kita, bahwa memilih jodoh adalah memilih satu, dan pegang erat-erat.
Itulah mengapa, bagi seorang akhwat, jangan sekali-kali menceritakan bagimana elokn teman akhwatnya kepada suaminya. Karena suami akan membandingkan dan bisa timbul rasa sesal dalam hati bila sahabat yang kau ceritakan lebih elok daripadamu.

6.Karena Cinta tak Butuh Banyak Alasan
Kembali penulis sampaikan kisah. Ada seorang gadis yang disukai oleh seorang lelaki. Gadis itu bertanya kepada sang lelaki, “Apa alasanmu mencintaiku.” Lelaki itu bingung menjawabnya, dan sang gadis tidak mau menerima lelaki yang tidak mengemukakan alasan untuk mencintainya. “Baiklah, aku mencintaimu karena senyummu yang manis, aku mencintaimu karena matamu yang lentik, aku mencintaimu karena perilakumu yang manja” Sang gadis pun tersipu malu dan akhirnya memutuskan untuk menerima sang lelaki itu.
Suatu waktu, sebelum mereka menikah, sang gadis ini mengalami musibah yang tidak disangka-sangka. Dia mengalami kecelakaan hingga membuatnya terbaring di kasur rumah sakit.
Sang lelaki datang menghampirinya dan duduk tepat disampingnya,
“Wahai calon istriku, engkau dulu bertanya mengapa aku mencintaimu. Aku berkata padamu bahwa aku tertarik dengan senyummu yang manis, namun sekarang senyummu tak lagi manis. Aku berkata padamu bahwa aku mencintaimu karena matamu yang lentik, sekarang matamu bahkan sulit untuk terbuka walau setitik. Aku berkata padamu bahwa aku mencintaimu karena perilakumu yang manja, sekarang engkau hanya terbaring disini tak berdaya. Kini kutahu bahwa aku mencintaimu bukan karena alasan-alasan itu. Dan aku akan tetap disini menemanimu, wahai kekasihku.”
Kawan, namun ingatlah, ada suatu alasan yang lebih hebat dan surga menjadi balasannya.
Seorang sahabat pernah mengingatkanku bahwa “Cinta akan menghilang bersamaan dengan menghilangnya sebab. Maka dari itu, carilah sebab yang abadi, yang tak lekang oleh waktu. Itu adalah Allah. Sebabkan cinta karena cintamu kepada-Nya. InsyaAllah cinta itu akan abadi di dunia dan akhirat.”

7.Pernikahan tak Seindah yang Diimpikan
Kita tahu cerita tentang Asiyah, istri Firaun. Pernikahan yang dijalaninya tidak membuahkan sakinah. Namun Allah memuliakan Asiyah, meski ia bersuamikan Firaun.
“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim’”
Cintanya kepada Allah mengalahkan segalanya. Mengalahkan cintanya pada kekuasaan yang dimiliki oleh suaminya yang zalim.

Demikian intisari dari tausiyah “Don’t worry to Marry” yang disampaikan oleh Ustadz Ismedias. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap kisah yang diceritakan beliau.
Mari sahabat, kita berlomba-lomba memperbaiki diri, karena sesungguhnya yang terbaik dari antara kita adalah yang terus belajar dari kesalahan masa lalu.
Semoga jodoh kita dapat mengantarkan kita ke surga-Nya. Dan mari kita luruskan niat dan pasrahkan bahwa mencinta karena hanya untukNya.
Wallahu a’lam bisshowab.

-srf-

Link artikel : http://saungkertas.com/wp/2014/02/dont-worry-to-marry/
Nama penulis : Syarif Hidayatullah
Twitter : @saungkertas
Blog : http://saungkertas.com

Artikel ini adalah hasil resensi dari event Majelis Malam Ahad – “Don’t Worry to Marry”

Advertisements