Kriteria Pasangan Hidupku

Akhwat (No Name)

Yang menjadi landasan saya dalam memilih seorang pendamping hidup adalah hadist Rasulullah SAW mengenai 4 perkara yaitu harta, keturunan, fisik dan agama.

Prioritas pertama adalah mengenai agama. Artinya, saya ingin memiliki pendamping yang merasa masih hijau dalam belajar agama, sehingga kami bisa belajar memperdalam agama bersama-sama. Sementara orang yang merasa sudah matang dalam beragama, ibaratnya buah, tinggal menunggu kapan membusuk saja, tidak ada keterbukaan untuk mau belajar dari orang lain.

Saya mengharap kepada ALLAH bahwa pendamping saya nantinya adalah seorang yang mencintai ALLAH dan Rasul-Nya. Sehingga ia takkan pernah menghinakan istrinya jika sedang tidak menyukainya, serta tidak menempatkan istrinya memenuhi hatinya ketika ia sedang menyukainya.

Mengenai harta, saya tidak ingin pendamping saya menjadi budak uang, menukarkan waktu untuk keluarganya dengan bekerja pada atasannya setiap hari hanya untuk dapat uang. Saya berharap memiliki suami yang bermental pengusaha.

Mengenai keturunan, saya berharap pendamping hidup saya sampai akhir hayat adalah seorang yang menyayangi keluarga orangtuanya. Dengan dukungan dari pendamping saya, saya akan beradaptasi dengan keluarganya. Bagaimanapun keluarga dia adalah keluarga saya juga. Saya akan menjalin silaturahim yang kuat dengan keluarganya.

Mengenai fisik, saya bukan seorang yang gila fisik. Saya lebih mementingkan sikap. Karena seorang yang ganteng sekalipun, kalau sikapnya jelek, satu jam bersamanya juga sudah bosan, capek, nggak nyaman. Tapi, saya berharap ALLAH memberikan saya pendamping yang bersedia memperganteng penampilan demi istrinya, sebagaimana sabda Rasulullah, saya berharap suami saya melakukan hal tersebut bukan untuk saya, tapi untuk ALLAH, sebagai bukti taat kepadaNya.

Diluar keempat kriteria tersebut, saya berharap memiliki seorang pendamping yang memiliki antusiasme besar, semangat, ramah pada manusia-hewan-tumbuhan, berpikir positif, suka tantangan, terbuka, perhatian, humoris, bahagia melihat kebahagiaan orang lain, berprinsip, jujur, proaktif (tidak mau menyalahkan orang lain karena kesalahannya), luwes, tidak banyak menuntut melainkan membimbing , tegas, tidak menyepelekan, tidak memaksakan, tidak men-judge, setia, pengertian, integritas, dewasa (bukan berarti nggak lucu, nggak kekanakan, tidak merasa selalu benar. Dewasa disini maksudnya adalah berani bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri. Mandiri), berjihad.

Hehe, itu sikap-sikap yang saya sukai, insyaALLAH sayapun sedang proses menuju sikap-sikap itu. Jadi kalau ada yang bilang mustahil satu orang memiliki sifat tersebut, tidak saya terima pernyataan itu.

Oh ya, ada juga hal yang berkenaan dengan teknis, yang saya harap ada pada diri pendamping saya nantinya. Hal – hal teknis ini berkaitan dengan saya langsung soalnya. Nilai – nilai di atas itu sangat umum, sementara saya berharap bisa menjadi partner seumur hidup, hal teknis di bawah ini cukup penting untuk saya paparkan :

Saya berharap memiliki seorang pendamping yang memiliki rasa seni. Komik, film bermutu terutama animasi, tidak menganggap seni-seni seperti itu murahan apalagi menganggapnya tidak bermanfaat. Karena saya terbuka terhadap nilai-nilai islam yang universal di karya-karya seni itu, dan saya tidak menganggapnya tidak berguna bahkan sebaliknya, karya – karya seperti itu bisa menjadi ladang dakwah yang sangat potensial.

Saya bukan orang yang kaku atau keras terhadap kriteria- kriteria di atas. Melalui proses perkenalan, saya dapat merasakan apakah visi yang saya miliki dengan calon suami saya tersebut searah. Hanya pada ALLAH saya menyerahkan kepasrahan setelah perjuangan ini.

Amin

Catatan ini diambil dari buku : Siap – Siap Nikah by Syamsa Hawa hal. 147 – 148

Advertisements